Senin , 17 Juli 2017, 20:54 WIB

Harga Garam Naik 100 Persen, Ibu Rumah Tangga Menjerit

Rep: Ita Nina Winarsih/ Red: Ilham Tirta
Republika/Agung Supriyanto
Garam di Pasar.
Garam di Pasar.

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG -- Sejumlah ibu rumah tangga yang tinggal di Kabupaten Karawang dikagetkan dengan naiknya harga garam dapur. Kenaikan garam tersebut, mencapai 100 persen dari harga normalnya. Saat ini, garam dapur yang diproduksi dari Cirebon harganya mencapai Rp 3.000 per picis. Padahal, sebelumnya hanya Rp 1.500 per picis.

Anisah (28 tahun), ibu rumah tangga asal Desa Kondangjaya, Kecamatan Karawang Timur mengatakan, dua bulan yang lalu harga garam dapur masih Rp 1.500 per picis. Sekarang, naik 100 persennya. Dirinya tak mengetahui penyebab kenaikan yang cukup drastis untuk garam dapur ini.

"Kaget juga saat pemilik warung bilang, harga garam naik," ujarnya kepada Republika.co.id, Senin (17/7).

Meskipun harganya naik, dirinya tetap membeli garam tersebut. Sebab, garam merupakan bumbu dapur yang sangat diperlukan. Beruntung, dirinya terbilang awet dalam memakai bumbu tersebut. Karena untuk satu picisnya bisa habis terpakai selama dua bulan.

Akan tetapi, saat ini harga garam dapur merupakan yang paling mahal. Sebab, sebelumnya belum pernah menembus Rp 3.000 per picis. Apalagi, garam yang biasa dikonsumsinya merupakan kualitas sedang, yang banyak digunakan masyarakat.

"Kalau garam impor produk pabrik itu harganya memang mahal. Tapi, yang biasa dikonsumsi ibu-ibu di sini merupakan garam lokal," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Kelompok Usaha Garam Rakyat (FK Kugar) Kabupaten Karawang, Aep Suhardi, membenarkan bila saat ini harga garam sedang bagus. Saat ini, harga garam di tingkat pembudidaya lebih dari Rp 2.000 per kilogram. Kondisi ini bukan tanpa sebab. Tingginya harga garam itu, dikarenakan stoknya di kalangan pembudidaya tidak ada.

"Karena stoknya kosong, maka berimbas juga pada harga garam dapur yang biasa digunakan oleh ibu-ibu rumah tangga," ujarnya.

Kosongnya stok garam ini, disebabkan selama 2016 kemarin, pembudidaya gagal membudidayakan garam. Karena tahun kemarin musim penghujannya cukup panjang. Sehingga, biasanya di akhir tahun stoknya melimpah, saat ini kosong sama sekali.

Kondisi ini tak hanya terjadi di Karawang. Melainkan hampir merata di setiap wilayah yang jadi sentra budidaya garam.