Ahad , 16 July 2017, 19:49 WIB

Realisasi BBM Satu Harga Jangkau 25 Titik

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Nur Aini
Republika/Prayogi
Kebijakan satu harga bahan bakar minyak (BBM). (Prayogi/Republika)
Kebijakan satu harga bahan bakar minyak (BBM). (Prayogi/Republika)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pertamina (persero) memastikan realisasi kebijakan Bahan Bakar Minyak (BBM) satu harga bisa menyentuh 25 titik di akhir Juli 2017 ini. Sebanyak empat titik tambahan akan diberlakukan BBM satu harga, setelah hingga akhir Juni lalu kebijakan ini berlaku untuk 21 titik di Indonesia. Bersama pemerintah, Pertamina akan mengoperasikan empat lembaga penyalur pendukung pelaksanaan program BBM Satu Harga di empat lokasi baru, yakni Halmahera Selatan di Maluku Utara, Pulau Kabaruan dan Pulau Karakelang di Sulawesi Utara, dan Seram Bagian Barat di Maluku.

Vice President Corporate Communication Pertamina Adiatma Sardjito menyatakan hingga akhir Juni lalu realisasi pengoperasian lembaga penyalur BBM Satu Harga di seluruh Indonesia telah mencapai 21 titik di daerah-daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal atau 3T. Seluruh 21 titik tersebut terdiri dari delapan titik yang merupakan bagian program Papua Satu Harga, termasuk satu titik di Krayan, Kalimantan Utara serta 12 titik dari 54 titik yang menjadi target pelaksanaan program Indonesia Satu Harga tahun ini.

“Program BBM Satu Harga yang dicanangkan pemerintah terus kami dukung dan laksanakan termasuk pengoperasian empat titik baru pada bulan ini," ujar Adiatma dalam acara media gathering di Tangerang, Banten, Ahad (16/7).

Perusahaan, kata Adiatma, menargetkan beroperasinya lembaga penyalur di empat titik ini dapat mendorong perekonomian masyarakat setempat. Apalagi, sebelum ini BBM terpaksa dibeli dari pengecer dengan harga antara Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu per liter. Kebijakan BBM satu harga membuat harga jual menjadi hanya Rp 6.450 per liter untuk BBM jenis Premium dan Rp 5.150 per liter untuk Solar.

Adiatma mengungkapkan proses pemetaan hingga terealisasinya BBM Satu Harga di suatu wilayah memang memerlukan waktu karena setelah lokasi ditetapkan, Pertamina perlu melakukan berbagai langkah persiapan. Pertamina, ujarnya, harus melakukan survei transportasi BBM, menggandeng investor lokal, dan membangun inftrastruktur hingga akhirnya lembaga penyalur berupa APMS (Agen Premium Minyak dan Solar) di wilayah yang menjadi sasaran BBM Satu Harga beroperasi.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan dalam roadmap BBM Satu Harga, pemerintah menargetkan pengoperasian 150 lembaga penyalur hingga 2019, masing-masing 54 titik pada 2017, 50 titik 2018, dan 46 titik pada tahun 2019. Estimasi penyaluran BBM di daerah-daerah target program BBM Satu Harga akan mencapai sekitar 215 ribu kilo liter (KL) pada 2017 dan menjadi 580 ribu KL pada 2019.