Jumat , 19 May 2017, 03:51 WIB

Teten: Pemerintah Komitmen Dukung Industri Sawit

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Budi Raharjo
Perkebunan Kelapa Sawit, ilustrasi
Perkebunan Kelapa Sawit, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,BOGOR -- Pemerintah berkomitmen penuh untuk terus mendukung industri perkebunan kelapa sawit. Sebab industri tersebut telah memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional dengan mendatangkan devisa dan penyerapan tenaga kerja.

"Saya pikir pemerintah memiliki komitmen yang besar pada industri sawit," ujar Kepala Staf Kepresidenan Indonesia Teten Masduki pada Perayaan 2 Abad Kebun Raya Bogor di Kebun Raya Bogor, Kamis (18/5).

Di saat terjadi perlambatan perekonomian dunia, ia melanjutkan, sawit menjadi penyelamat perekonomian Indonesia. Hilirisasi sawit diakui Teten belum optimal karena selama ini Indonesia masih mengandalkan ekspor dalam bentuk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Oleh karena itu pemerintah meminta para pelaku usaha segera melakukan hilirisasi industri sawit. Dengan demikian, nilai tambah industri sawit akan banyak dirasakan bangsa Indonesia. "Dari sisi pengusaha tentu saja akan mendapatkan tambahan keuntungan, sementara beban pemerintah akan berkurang karena hilirisasi ini akan menyerap banyak tenaga kerja," ujar Teten.

Komitmen pemerintah ini, juga tercermin dari perjuangan Presiden Joko Widodo bersama para menterinya meyakinkan Uni Eropa bahwa budidaya perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah seusai dengan kaidah-kaidah yang telah dipersyaratkan dalam undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Seperti diketahui, belum lama ini Parlemen Uni Eropa menuding sawit Indonesia erat dengan isu pelanggaran HAM, korupsi, pekerja anak dan penghilangan hak masyarakat adat. Namun, menurutnya, resolusi parlemen Eropa tersebut tidak tepat.

Sebab Pemerintah.Indonesia melalui peraturan-peraturan yang dikeluarkan telah mendorong agar praktik budidaya perkebunan sawit mengikuti kaidah-kaidah lingkungan dan konservasi alam. Oleh karena itu, pemerintah akan terus berupaya meyakinkan Eropa bahwa perkebunan sawit di Indonesia telah mengacu kepada praktik perkebunan yang berkelanjutan.

"Saya juga mengimbau kepada para petani sawit maupun pelaku usaha agar mematuhi dan taat pada regulasi yang telah ditetapkan pemerintah," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono menyerahkan bibit induk sawit Dura Deli kepada Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor Didik Widyatmoko. Bibit induk tersebut merupakan hasil seleksi yang dilakukan oleh pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) secara terstruktur sejak awal 1900.

Tanaman Dura ini menjadi pohon induk (mother palm) untuk produksi benih kelapa sawit unggul. Saat ini generasi Dura Deli yang digunakan dalam proses produksi benih di PPKS merupakan generasi keenam dari tahun 1848. Secara genetik, Dura merupakan keturunan dari pohon Dura yang ditanam di Kebun Raya Bogor pada tahun 1848.

Sejarah kelapa sawit di Indonesia sendiri bermula dari empat bibit yang diperkenalkan dari Bourbon atau Mauritius pada Februari 1848 oleh DT Pryce. Sementara dua bibit yang lainnya diintroduksi dari Amsterdam pada Maret 1848.

Diduga dua bibit tersebut juga berasal dari kelompok yang sama dengan bibit yang berasal dari Bourbon. Keempat bibit sawit itu kemudian ditanam di Buitenzorg Botanical Garden (Kebun Raya Bogor) pada 1848.

Sementara itu, pengembangan sawit secara komersial di Indonesia dibangun pada 1911 oleh M Adrien Hallet, seorang warga negara Belgia di Sumatera bagian timur, mencakup Pulu Raja (Asahan) dan Sungai Liput (Aceh). Bermula dari empat bibit yang ditanam di Kebun Raya Bogor itulah, saat ini sawit berkembang menjadi industri penting di Indonesia. Bahkan telah menjadi penghasil devisa terbesar bagi Indonesia.

Berita Terkait