Selasa , 21 Maret 2017, 00:05 WIB

Indonesia Bakal Jadi Importir Migas Terbesar di Asia Tenggara

Rep: Frederikus Bata/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Republika/Agung Supriyanto
 Warga melakukan pengisian bahan Bakar Minyak (BBM) secara swadaya di SBPU Cikini, Jakarta, Ahad (26/2).
Warga melakukan pengisian bahan Bakar Minyak (BBM) secara swadaya di SBPU Cikini, Jakarta, Ahad (26/2).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Andang Bachtiar mengatakan pada 2019 negara kita menjadi net importir minyak dan gas.  Pada 2025, jelas dia,  Indonesia akan menjadi importir terbesar se Asia Tenggara.

"Suka atau tidak suka,  kita akan tetap butuh minyak," kata Bachtiar dalam diskusi mengawal RUU Migas,  di Jakarta,  Senin (20/3).

Ia menjelaskan kondisi di tanah air,  sebanyak 95 persen masih bergantung pada energi fosil. Sejak 2004 kita menjadi net importir minyak.

Ia menerangkan  kebutuhan minyak kita terus bertambah.  Pada 2025 nanti,  jelas dia, Indonesia membutuhkan 412 million ton oil equivalent (mtoe) "Pada 2050 kebutuhan kita menjadi 1030 mtoe.  Saya bukan pembela oil dan gas,  tapi kita harus realistis kita masih butuh migas," ujar Bachtiar menegaskan.

Ia mengungkapkan jika benar-benar dieksplorasi potensi minyak kita masih 19 miliar barel. Ia berharap DPR membuat revisi Undang-undang Migas yang bisa mengatur hal tersebut.  Pemerintah juga diminta mengeluarkan peraturan yang menarik minat investor untuk bereskplorasi.

"Masih banyak sebenarnya, cuma kita nggak eksplorasi selama ini," tutur Bachtiar.