Kamis , 02 March 2017, 00:15 WIB

Pertamakalinya, Konstruksi Tol Palembang – Indralaya Gunakan Teknologi VCM

Rep: Maspril Aries/ Red: Maman Sudiaman
istimewa
 Gubernur Alex Noerdin saat menerima Hasan Turcahyo, pimpinan proyek TJJS Palembang-Indralaya di Griya Agung, Rabu (1/3).
Gubernur Alex Noerdin saat menerima Hasan Turcahyo, pimpinan proyek TJJS Palembang-Indralaya di Griya Agung, Rabu (1/3).

REPUBLIKA.CO.ID, PALEMBANG -- Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) pada ruas Palembang – Indralaya di Sumatera Selatan (Sumsel) menggunakan teknologi konstruksi berbeda dengan ruas jalan tol lainnya di Indonesia. Jalan tol di Sumsel tersebut sebagian besar membentang di atas lahan yang merupakan kawasan rawa.

Teknologi yang digunakan, kata Gubernur Sumsel Alex Noerdin yakni Vacuum Consolidation Method atau VCM. "Teknologi VCM pertama kali diterapkan di Indonesia untuk pembangunan jalan tol diatas tanah rawa,” kata  Alex Noerdin, Rabu (1/3) usai menerima laporan pimpinan proyek JTTS Palembang-Indralaya, Hasan Turcahyo.

Hasan Turcahyo dari pimpinan proyek dari PT Hutama Karya melaporkan pelaksananaan jalan Tol Palembang- Indralaya (Palindra). Ruas tol sepanjang 22 km tersebut dibangun menggunakan teknologi VCM yang pertama kali diterapkan di Swedia pada 1950-an. Kemudian teknologi VCM ini banyak digunakan di Cina saat membangun ribuan kilometer jalan tol di negeri tirai bambu tersebut.

Menurut Alex Noerdin, dalam membangun jalan tol banyak teknologi yang bisa dipilih dan diterapkan, namun teknologi VCM ini lebih cepat dan juga lebih murah. “Selain itu PT Hutama Karya juga telah dianggap lebih berpengalaman dalam pengerjaan teknologi VCM ini. Kini PT Hutama Karya juga diarahkan untuk bisa membantu pembangunan sirkuit MotoGP di kawasan Jakabaring, sebab lahan untuk sirkuit itu sama seperti tanah rawa di jalan tol Palembang – Indralaya,” ujarnya.

Menurut Hasan Turcahyo, teknologi VCM dalam  pelakasanaan pekerjaannya yaitu dengan memperbaiki tanah lunak di bawah badan jalan. Teknologi ini untuk mempercepat konsilidasi atau biasa disebut VCM. “Selama pengerjaannya tol Palembang - Indralaya tidak ada kesulitan, hanya saja di daerah tertentu terdapat lapis pasir sehingga proses vakum menjadi bocor akan tetapi masih bisa diatasi dengan ditanami lumpur,” katanya.

Sebelum menggunakan teknologi VCM, untuk pembangunan Palembang – Indralaya PT Hutama Karya sempat direncanakan menggunakan teknologi konstruksi seribu kaki lahan tol merupakan kawasan rawa. Kemudian sempat juga direncanakan menggunakan teknologi konstruksi cakar ayam. Teknologi konstruksi tersebut dinilai membutuhkan banyak biaya karena banyaknya beton yang diperlukan. Akhirnya BUMN konstruksi tersebut memiliki teknologi VCM.

Sementara Hasan Turcahyo dalam laporannya menjelaskan, pelaksananaan konstruksi jalan tol Palembang- Indralaya untuk tahap penyelesaian seksi satu pada bulan April, seksi tiga bulan Mei dan seksi dua pada bulan Agustus untuk bisa difungsikan, dan ditambah dua bulan untuk evaluasi dari tim uji layak fungsi.  “Selama masa uji layak fungsi tol sudah bisa digunakan untuk lalu lintas masyarakat,” ujarnya.