Rabu , 17 Desember 2014, 18:55 WIB

BPPT: Peran Teknologi dalam Pertumbuhan Ekonomi Masih Rendah

Red: Yudha Manggala P Putra
Ilustrasi
Pabrik susu
Pabrik susu

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menilai peran teknologi dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia masih rendah, karena hanya mencapai 26,3 persen, padahal standar negara maju sebesar 49 persen.

"Namun dari hasil kajian, diketahui angka ini sudah meningkat dibanding sebelumnya," kata Socio yang menjadi Ketua Tim Penyusun buku 'Peranan Teknologi dalam Pertumbuhan Koridor Ekonomi Indonesia' dalam bedah buku itu di Gedung BPPT di Jakarta, Rabu (17/12).

Ia mengatakan untuk melompat menjadi seperti negara maju diperlukan pertumbuhan peran teknologi sampai separuh dari pertumbuhan ekonomi, yakni 3,5 persen, dari angka selama ini hanya 1,76 persen.

"Caranya perlu ada kebijakan yang mendukung penguatan riset dan teknologi seperti meningkatkan anggaran riset, termasuk dari sektor swasta seperti di negara maju yang 80 persen risetnya ada di swasta," katanya.

Peran teknologi dalam pertumbuhan ekonomi, ujarnya, diukur melalui Total Factor Productivity (TFP) yang biasa digunakan oleh berbagai negara di dunia dengan variabel selain modal dan tenaga kerja, juga teknologi yang dipakai.

Kajian tersebut selain secara nasional juga dihitung oleh timnya berdasarkan masing-masing provinsi dan koridor seperti koridor Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara serta Maluku-Papua.

"Jawa memiliki pertumbuhan TPF terbesar dengan kontribusi sebanyak 47,9 persen dari pertumbuhan ekonomi nasional," katanya.

Sementara itu, Managing Director Akademika Center for Public Policy Analysis, Edy Priyono, mengatakan yang disebut sebagai teknologi selain harus mampu meningkatkan kualitas dan produktivitas, juga harus meningkatkan efisiensi yang menurunkan biaya produksi.

"Kalau di Indonesia pakai teknologi suatu barang malah jadi mahal, kalau di luar negeri coffee maker justru membuat proses pembuatan kopi jadi murah, harga jadi murah, kalau di Indonesia malah jadi mahal," katanya.

Penyebabnya, menurut dia, karena teknologi yang dipakai adalah teknologi impor dan adanya biaya birokrasi. "Pabrik Acer itu dulunya pabrik untuk buat komponen merk Compaq, tapi setelah perjanjian habis, tidak diperpanjang dan membuat merk sendiri, jadi ada alih teknologi. Mestinya pabrik motor Honda di Indonesia bisa buat merk sendiri, karena 95 persen komponen motor Honda di sini sudah produk Indonesia," katanya.

Sumber : Antara