Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

DPR: Pemerintah Jangan Plin Plan Soal BBM!

Senin, 18 Maret 2013, 14:47 WIB
Komentar : 0
Republika/Prayogi
Petugas SPBU mengisikan BBM subsidi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) meminta pemerintah tak plin plan soal bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Anggota Komisi VII DPR RI Bobby Rizaldi menilai, pemerintah harus segera menentukan apakah ingin menaikkan harga BBM bersubsidi atau tetap menggunakan skema pembatasan untuk menekan konsumsi masyarakat.

Pemerintah tak bisa membiarkan kedua solusi ini menjadi blur. "Jadi solusinya sebenarnya sudah jelas. Tapi kalau nanti kebijakannya plin plan, ya mau naikkan harga terus bilang mau IT pula, ini malah pemborosan APBN tak karuan," tegasnya pada ROL, Senin (18/3).

Meski demikian, kalau ingin menaikkan BBM bersubsidi, pemerintah tetap perlu mendifinisikan dahulu siapa penerima BBM bersubsidi. Pemerintah harus menjabarkan apakah penerima BBM bersubsidi adalah seluruh masyarakat atau penggunanya sesuai Peraturan Presiden nomor 15 tahun 2012, hanya kelompok tak mampu.

"Kalau seluruhnya, jelas pilihannya adalah menaikkan harga, dengan risiko ada bagian masyarakat yang makin miskin karena kenaikan harga transportasi dan tambahan inflasi satu persen," jelasnya. Namun bila hanya terbatas untuk kalangan tertentu saja, pemerintah wajib menerapkan distribusi tertutup untuk BBM bersubsidi.

Ia pun menilai kebijakan harus dikaji secara akademis dengan melihat pada realita yang terjadi di negara lain saat kebaikan BBM bersubsidi dilakukan. Sehingga kebijakan yang diambil nanti tak reaksional dan hanya menjadi respon jangka pendek semata.

Reporter : Sefti Oktarianisa
Redaktur : Nidia Zuraya
585 reads
Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafaat dan tebusan daripadanya, dan tidaklah mereka akan ditolong. (QS.Al-Baqarah [2]:48)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda