Sabtu, 11 Jumadil Awwal 1434 / 23 Maret 2013
find us on : 
  Login |  Register

Ekonom: Impor Minyak Tipiskan Cadangan Devisa

Jumat, 08 Maret 2013, 16:17 WIB
Komentar : 0
cadangan devisa, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Cadangan devisa Indonesia per Februari 2013 memang mengalami penurunan hingga 3,6 miliar dolar AS. Posisinya turun dari 108,8 miliar dolar AS pada Januari 2013 menjadi 105,2 miliar dolar AS per Februari 2013.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Destry Damayanti. menilai cadangan devisa turun kembali seiring dengan aktifnya intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar valuta asing (valas). Aktifnya BI ini untuk menstabilkan Rupiah.

Tingginya permintaan impor minyak dan pembayaran utang luar negeri menyebabkan menipisnya cadangan devisa. Menipisnya cadangan devisa ini dalam batas waktu tertentu bisa meningkatkan kekhawatiran pemegang aset Rupiah. "Meskipun saat ini levelnya masih aman, setara 5,7 bulan impor dan masih jauh dari ambang batas pembayaran utang luar negeri pemerintah yang ditetapkan IMF tiga bulan," kata Destry di Jakarta, Jumat (8/3).

Sementara itu, melihat inflasi bulanan, pada Februari ini Destry melihat ini lebih kepada harga pangan. Tren ini kemungkinan besar akan terus berlanjut dan menjadi pendorong utama inflasi tahun ini. Bank sentral kelihatannya juga tak akan mengubah BI rate.

BI akan tetap fokus pada makro prudensial dan memeprkuat koordinasi dengan otoritas fiskal, terutama dalam menjaga stabilitas harga pangan. Pemulihan ekonomi global masih terus berlanjut. Permintaan impor minyak yang kuat kemungkinan akan menjaga transaksi berjalan tetap defisit.

Reporter : Mutia Ramadhani
Redaktur : Nidia Zuraya
1.784 reads
Sesungguhnya Allah SWT mengampuni beberapa kesalahan umatku yang disebabkan karena keliru, karena lupa, dan karena dipaksa (HR Ibnu Majah, Baihaqi, dan lain-lain)
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

Berita Lainnya

Pemerintah Fokus Kejar Angka Pertumbuhan 6,6-6,8 Persen