Sunday, 29 Safar 1436 / 21 December 2014
find us on : 
  Login |  Register

Petronas Keluar dari Blok Gas Natuna, RI Harus Bersyukur

Monday, 05 March 2012, 18:02 WIB
Komentar : 1
Petronas
Petronas

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Indonesia dinilai semestinya berterimakasih atas keluarnya Petroliam Nasional Berhard (Petronas) dari konsorsium eksplorasi proyek gas raksasa di Blok East Natuna. "Petronas mundur saya justru ikut berterimakasih," kata pengamat energi Kurtubi kepada Republika, Senin (5/3).

Peneliti dari Center for Petroleum Economics Studies (CPES) itu mengatakan pemerintah seharusnya tak perlu memperbanyak keanggotaan konsorsium dalam proyek gas terbesar di Asia itu. Kurtubi beralasan keanggotaan hanya mempersulit mekanisme pembagian hasil dalam perjanjian kontrak.

Kurtubi menyarankan Pertamina sebagai operator utama dari Indonesia tak perlu mencari tim baru menggantikan Petronas. Cukup berjalan dengan tim yang sudah ada.

Keluarnya Petronas menjadikan konsorsium pengelolaan gas East Natuna, membuat blok itu kini hanya ditangani Pertamina bersama dua mitra. Pertama, unit usaha ExxonMobile Corporation, yaitu Esso Natuna Ltd. Kedua, unit usaha Total SA, yaitu Total E&P Activities Petrolieres. Keduanya masuk pada akhir 2010. Sebelumnya bahkan ada delapan kontraktor besar yang menaruh minat menggarap Blok East Natuna tersebut.

Sambil bercanda, Kurtubi mengkhawatirkan jika Petronas terus terlibat dalam proyek Blok East Natuna maka lapangan gas Natuna berpotensi diklaim milik Malaysia. Sebab, lokasinya berdekatan dengan Malaysia. Dengan kehadiran anggota konsorsium yang tersisa, Pertamina akan lebih berpeluang mengusahakan pengolahan gas Natuna untuk pemakaian dalam negeri.

Lagipula, kata Kurtubi, Petronas tak memiliki teknologi yang terbukti mampu menangani proyek itu. Padahal, proyek East Natuna membutuhkan konsorsium yang memunyai teknologi handal yang mampu memisahkan gas karbondiosida (CO2) dan methane dalam bentuk volume skala besar di tengah laut. "Petronas tak punya teknologi itu, jadi buat apa?" ujarnya.

Reporter : Mutia Ramadhani
Redaktur : Ajeng Ritzki Pitakasari
Sebaik-baik menjenguk orang sakit adalah berdiri sebentar (tidak berlama-lama) dan ta'ziah (melayat ke rumah duka) cukup sekali saja.((HR. Ad-Dailami))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar

  VIDEO TERBARU
Upaya Pembunuhan Kim Jong Un, Film Ini Batal Putar
WASHINGTON DC -- Sony Pictures diperkirakan rugi sekitar 100 juta dolar karena batalnya pemutaran film "The Interview" akibat ancaman serangan ke bioskop-bioskop yang...