Senin, 05 Maret 2012, 18:02 WIB

Petronas Keluar dari Blok Gas Natuna, RI Harus Bersyukur

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
Petronas
Petronas

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Indonesia dinilai semestinya berterimakasih atas keluarnya Petroliam Nasional Berhard (Petronas) dari konsorsium eksplorasi proyek gas raksasa di Blok East Natuna. "Petronas mundur saya justru ikut berterimakasih," kata pengamat energi Kurtubi kepada Republika, Senin (5/3).

Peneliti dari Center for Petroleum Economics Studies (CPES) itu mengatakan pemerintah seharusnya tak perlu memperbanyak keanggotaan konsorsium dalam proyek gas terbesar di Asia itu. Kurtubi beralasan keanggotaan hanya mempersulit mekanisme pembagian hasil dalam perjanjian kontrak.

Kurtubi menyarankan Pertamina sebagai operator utama dari Indonesia tak perlu mencari tim baru menggantikan Petronas. Cukup berjalan dengan tim yang sudah ada.

Keluarnya Petronas menjadikan konsorsium pengelolaan gas East Natuna, membuat blok itu kini hanya ditangani Pertamina bersama dua mitra. Pertama, unit usaha ExxonMobile Corporation, yaitu Esso Natuna Ltd. Kedua, unit usaha Total SA, yaitu Total E&P Activities Petrolieres. Keduanya masuk pada akhir 2010. Sebelumnya bahkan ada delapan kontraktor besar yang menaruh minat menggarap Blok East Natuna tersebut.

Sambil bercanda, Kurtubi mengkhawatirkan jika Petronas terus terlibat dalam proyek Blok East Natuna maka lapangan gas Natuna berpotensi diklaim milik Malaysia. Sebab, lokasinya berdekatan dengan Malaysia. Dengan kehadiran anggota konsorsium yang tersisa, Pertamina akan lebih berpeluang mengusahakan pengolahan gas Natuna untuk pemakaian dalam negeri.

Lagipula, kata Kurtubi, Petronas tak memiliki teknologi yang terbukti mampu menangani proyek itu. Padahal, proyek East Natuna membutuhkan konsorsium yang memunyai teknologi handal yang mampu memisahkan gas karbondiosida (CO2) dan methane dalam bentuk volume skala besar di tengah laut. "Petronas tak punya teknologi itu, jadi buat apa?" ujarnya.