Sabtu, 19 Jumadil Akhir 1435 / 19 April 2014
find us on : 
  Login |  Register

Utang Indonesia Sudah Rp 1.900 Triliun, Pemerintah Diminta Stop Biayai Pembangunan dari Utang

Jumat, 05 Agustus 2011, 11:21 WIB
Komentar : 0

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- LSM Koalisi Anti Utang (KAU) mendesak agar pemerintah tidak lagi mengandalkan dana yang berasal dari utang luar negeri sebagai salah satu sumber untuk membiayai pembangunan di dalam negeri.

"Semakin besar kita mengandalkan utang maka akan semakin besar bahaya yang bisa berdampak pada ekonomi nasional," kata Ketua LSM Koalisi Anti Utang (KAU) Dani Setiawan di Jakarta, Jumat. Menurut dia, isu utang seharusnya saat ini menjadi "debat panas" di dalam DPR karena banyak hal yang harus diperhatikan terkait hal itu.

Ia mencontohkan, hal penting yang harus dicermati terkait dengan utang adalah sejauh mana jumlah cicilan pokok dan biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar utang tersebut. Dani juga mengingatkan bahwa Indonesia juga harus belajar dari kekisruhan dalam penentuan pagu utang AS yang sempat menjadi perdebatan hangat baik di dalam tubuh pemerintah AS maupun kongres negara itu.

"Di AS terlihat isu utang menjadi krusial tetapi di Indonesia isu utang masih belum menjadi debat politik yang panas," katanya. Sebelumnya, Kepala Biro Humas Bank Indonesia Didi A Johansyah juga menilai, total utang luar negeri Indonesia baik pemerintah maupun swasta yang terus meningkat hingga kwartal I tahun ini patut terus dicermati.

"Meski ekonomi kita stabil dan fundamental ekonomi bagus, tetapi utang luar negeri harus terus dicermati dengan mengingatkan pelaku bisnis untuk mengelola utang luar negerinya secara berhati-hati," kata Didi di Jakarta akhir Juni lalu.

Jumlah utang luar negeri Indonesia sampai kwartal I 2011 mencapai 214,5 miliar dolar AS, meningkat 10 miliar dolar AS dibanding posisi akhir 2010. Jumlah tersebut terdiri atas utang Pemerintah sebesar 128,6 miliar dolar AS dan utang swasta 85,9 miliar dolar AS.

Sedangkan rasio utang dibanding PDB saat ini 28,2 persen lebih baik dibanding 1997/1998 sebesar 151,2 persen. Sementara rasio utang jangka pendek dibanding cadangan devisa saat ini 42,6 persen lebih baik dibanding posisi 1997/1998 sebesar 142,7 persen.

Redaktur : Stevy Maradona
Sumber : Antara
Celaka bagi orang yang bercerita kepada satu kaum tentang kisah bohong dengan maksud agar mereka tertawa. Celakalah dia...celaka dia. ((HR. Abu Dawud dan Ahmad))
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar
  Alib wibisono Selasa, 14 Agustus 2012, 07:10
Uakehe PuoLL,,
  harsono hs bogor Rabu, 18 Juli 2012, 17:21
tidak perlu risau dengan hutang, sebab untuk usaha kegiatan diperlukan hutang disamping dengan modal sendiri, kalau bisa mengendalikan kedua-duanya akan meraih great success, kalau tak bisa kita perlu evaluasi diri mengapa kok tidak mampu mengelola !?
  Max Selasa, 26 Juni 2012, 06:31
Pajak buat bangun negri dan cicil utang???? Keep dreaming ... and keep ignoring fakta banyaknya tikus di dapur pajak.
  Muslich Basri Sabtu, 2 Juni 2012, 11:59
Pemerintah tidak cukup hanya diingatkan, karena mereka bisanya cuma bererkelit macam-macam. Pemerintah sudah tidak perlu diingatkan karena mereka pakai kacamata kuda dalam menjalankan kebijakannya.
Maka yang harus dikritisi adalah pelanggaran atas hak Rakyat Indonesia, UUD 1945 dan Pancasila.
  Jack Selasa, 22 Mei 2012, 13:03
Barusan menghitung..
Utang Indonesia
Rp 1.903.000.000.000.000,-

Dibagi penduduk Indonesia
200.000.000 jiwa..

Jadi utang pribadi anda dan saya adalah masing-masing
Rp 9.515.000,-

Selamat mengumpulkan... :d