Rabu , 03 January 2018, 14:24 WIB

2017, Bulog Hanya Mampu Serap Gabah Petani 55 Persen

Rep: Halimatus Sa'diyah/ Red: Nidia Zuraya
Antara/Fiqman Sunandar
 petani tengah menjemur gabah keringnya.
petani tengah menjemur gabah keringnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perum Bulog hanya mampu menyerap gabah petani sebanyak 2,46 juta ton setara beras hingga 27 Desember 2017. Jumlah itu setara dengan 55 persen dari target yang ditetapkan untuk tahun 2017, yakni 4,47 juta ton.

Direktur Pengadaan Bulog Andrianto Wahyu Adi mengatakan, serapan rendah itu terjadi karena tahun lalu perusahaan plat merah tersebut hanya menunggu suplai datang. Di tahun 2018, Andrianto mengatakan, Bulog akan lebih proaktif dalam menyerap gabah petani.

Ia optimistis, Bulog dapat melakukan penyerapan gabah lebih optimal karena di tahun ini skema pengadaan akan dilakukan dengan kerangka komersil, tidak lagi memakai kerangka Public Service Obligation (PSO) yang harganya sudah ditentukan pemerintah.

"Kalau pakai kerangka komersil, kami bisa main sesuai dengan harga pasar. Sehingga, harapan kami harga lebih menarik," kata Andrianto, saat menghadiri rapat koordinasi ketahanan pangan di Kementerian Pertanian, Rabu (3/1).

Di tahun 2018, Bulog menargetkan dapat menyerap gabah petani sebanyak 2,7 juta ton. Dari jumlah tersebut, hampir seluruhnya akan diarahkan untuk bisnis komersil Bulog.

Pada tahun ini, Bulog tak lagi memiliki kewajiban untuk menyalurkan subsidi berupa beras sejahtera (rastra) kepada masyarakat. Pemerintah telah mengalihkan program rastra menjadi bantuan sosial nontunai.