Senin , 04 December 2017, 21:40 WIB

YLKI: Bencana Jadi Dalih Garuda Hindari Bayar Kompensasi

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Elba Damhuri
Zarqoni Maksum/Antara
Pesawat Garuda
Pesawat Garuda

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Maskapai Garuda Indonesia mengalami penudaan penerbangan karena terdampak tidak langsung dari erupsi Gunung Agung, Karangasem, Bali. Akibat erupsi tersebut bandara di Bali dan Lombok ditutup sehingga menyebabkan kru dan pesawat tertahan.

Terkait hal tersebut, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai ada yang tidak tepat dari manajemen Garuda. "Jangan-jangan manajemen atau direksi Garuda terlambat mengantisipasi bencana Gunung Agung atau gagal menerapkan tanggap darurat saat bencana," kata Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi, Senin (4/12).

Dia menduga, Garuda ingin menghindari tanggung jawab pemberian kompensasi pada konsumennya dengan dalih adanya bencana dan faktor cuaca. Untuk itu, Tulus meminta regulator yaitu Kementerian Perhubungan dan Kementerian BUMN memberikan teguran keras kepada manajemen Garuda atas kejadian tersebut.

Tulus menganggap alasan bahwa keterlambatan dan penundaan penerbangan Garuda pada akhir pekan kemarin karena faktor bencana Gunung Agung terlalu simplistik. Sebab, kata dia, jika alasan tersebut benar, mengapa tidak terjadi pada maskapai lain.

Belum lagi, Tulus mengatakan menurut keterangan atau laporan konsumen dari lapangan, Garuda tidak memberikan informasi yang jelas dan transparan mengenai keterlambatan penerbangan tersebut. "Sehingga konsumen terombang-ambing dan marah," ujar Tulus.

Sementara itu, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi hanya memberikan tanggapan singkat mengenai keterlambatan penerbangan yang dialami Garuda. "Kita akan awasi. Kompensasi harus sesuai dengan ketentuan. Kita akan awasi lebih ketat," kata Budi di Kementerian Perhubungan, Senin (4/12).

Pada Jumat, 1 Desember lalu, penerbangan Garuda mengalami delay panjang di Bandara Soekarno Hatta. Tak ada informasi atas keterlambatan itu. Penumpang pun marah.

Senior Manager Public Relation Garuda Indonesia Ikhsan Rosan mengatakan keterlambatan tersebut merupakan dampak tidak langsung dari erupsi Gunung Agung.

Semenjak erupsi dan penutupan bandara di Bali dan Lombok, menurut Ikhsan, ada banyak pembatalan penerbangan. "Kita batalin semenjak itu (erupsi Gunung Agung) ada 300 penerbangan. Lalu akibatnya ada pesawat dan kru yang tertahan sejak erupsi," kata Ikhsan.

Selain kru dan pesawat yang tertahan dalam penerbangan dari dan munuju Bali serta Lombok, Ikhsan mengatakan tak hanya domestik saja. Kru dan pesawat juga ada yang dari luar negeri seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia menuju Bali juga menambah tertahannya pesawat dan kru.

Ikhsan menegaskan penerbangan internasional juga banyak yang tertahan semenjak erupsi Gunung Agung menyebabkan bandara di Bali dan Lombok ditutup. "30 persen total operasi kita dari dan ke Bali," ungkap Ikhsan.

Dia menuturkan semenjak erupsi Gunung Agung berdampak kepada penerbangan menyebabkan kru harus melakukann penjadwalan ulang. Ikhsan mengatakan proses tersebut sangat membutuhkan waktu.