Senin , 04 December 2017, 13:58 WIB

Holding Tambang Garap Proyek Hilir Batu Bara dan Alumina

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya
Republika/Rahayu Subekti
Deputi Bidang Usaha Pertambangan Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno (tengah baju batik) bersama para direktur utama holding tambang di Kementerian BUMN, Jumat (24/11).
Deputi Bidang Usaha Pertambangan Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno (tengah baju batik) bersama para direktur utama holding tambang di Kementerian BUMN, Jumat (24/11).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Pengembangan Bisnis PT Bukit Asam, Fuad Iskandar Zulkarnain Fachroeddin menjelaskan nantinya holding tambang akan fokus untuk peningkatan proyek proyek hilirisasi dalam negeri. Hal ini kata Fuad merupakan langkah holding untuk memperbesar nilai tambah dalam negeri dan meningkatkan multiplier effect bagi industri.

Fuad menjelaskan ada beberapa hal yang menjadi konsen holding tambang kedepan. Pertama, gasifikasi batu bara.

Fuad menjelaskan, Menteri BUMN meminta agar tidak ada aliran keluar masuk batu bara secara besar besaran. Kedepan batu bara produksi dari holding tambang akan diproses ditempat menjadi listrik dan gas.

Selain bisa untuk memastikan pasokan batu bara dalam negeri, hal ini juga akan berdampak pada industri hilir seperti pupuk dan petrokimia. "Ini konsep dari 6 tahun lalu, tapi belum jalan. Kita akan jalankan di Holding kali ini," ujar Fuad di Kantor Kementerian BUMN, Senin (4/12).

Selain batu bara, kata Fuad holding juga akan meningkatkan hilirisasi alumina. Jika selama ini inalum mengimpor 100 persen alumina untuk bahan baku aluminium, maka kedepan bahan baku ini akan dibuat di dalam negeri.

"Perbedaannya kita ekspor dalam bentuk bauksit cuma dapat 1 dolar AS. Lalu kalau kita impor dalam bentuk alumina bisa dapat 8 dolar AS. Artinya 8 kali nilai tambah terjadi di luar negeri. Ini kita mau olah di dalam negeri, sehingga nilai tambahnya bisa dua kali lipat," ujar Fuad.