Selasa , 14 November 2017, 08:40 WIB

Surveyor Indonesia Bidik Pasar dengan 4 Sektor Andalan

Red: Irwan Kelana
Dok PTSI
Direktur Utama PT Surveyor Indonesia, M Arif Zainuddin.
Direktur Utama PT Surveyor Indonesia, M Arif Zainuddin.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Surveyor Indonesia (Persero) kian mantap mencapai visi sebagai perusahaan independent assurance. “Pengalaman kami melayani pasar jasa tersebut selama ini menjadi kekuatan utama yang didukung oleh sumber daya manusia yang kuat dalam memberikan pelayanan terbaik bagi para pelanggan,” kata Direktur Utama PT Surveyor Indonesia (PTSI) M Arif Zainuddin dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Senin (13/11).

Ia menambahkan, Suevyor Indonesa membidik pasar dengan empat sektor andalan. “Layanan independent assurance kami fokuskan pada empat sektor,  yaitu penguatan institusi kelembagaan, infrastruktur, mineral dan batubara, serta migas dan sistem pembangkit,” ujarnya.

PT Surveyor Indonesia menjadi mitra strategis bagi pemerintah, swasta dan partner kerja perusahaan lainnya untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya dan produk dalam negeri pada bidang infrastruktur, kemaritiman, energi dan ketahanan pangan.

“Mitra tidak hanya sebatas pelanggan ketika bekerja sama , tetapi sebagai rekan bisnis berkelanjutan dalam hubungan jangka panjang,” kata Arif.

Ia mengungkapkan,  pada  tahun 2017, sektor penguatan institusi dan kelembagaan diperkirakan membukukan pendapatan Rp 209,5  miliar dan laba Rp 45,5 miliar dengan margin 21,8 persen.

“Target pendapatan pada 2018 sebesar Rp  243,8 miliar,  naik sebesar 16 persen dengan target laba Rp 42,7 miliar,” tuturnya.

Di sektor migas dan pembangkit, tahun 2017 PTSI menganggarkan pendapatan sekitar Rp 400  miliar.  Sampai dengan akhir oktober, kontribusi dari sektor ini telah mencapai 70  persen dan diharapkan sampai akhir tahun dapat tercapai sesuai anggaran pendapatannya.

“Pada  tahun 2018 kami menargetkan kenaikan pendapatan 25 persen  dari anggaran tahun sebelumnya, karena sektor ini masih menjanjikan untuk diintensifikasi dan optimalisasi pasarnya lima  tahun ke depan,” ujarnya.

Di sektor mineral dan batubara, tahun ini PTSI menargetkan pendapatan Rp 135 miliar dan sampai akhir Oktober sudah berkontribusi mencapai 80 persen.

“Tahun 2018 sektor kami  menargetkan kenaikan pendapatan 30 persen dari tahun sebelumnya.  Kami yakin,  sektor mineral dan batubara akan terus meningkat sampai lima tahun ke depan,” paparnya.

Tahun 2017 ini sektor infrastruktur menganggarkan pendapatan Rp 176 milliar. “Pada tahun 2018 sektor infrastruktur menargetkan kenaikan pendapatan sejumlah 11 persen dari target tahun sebelumnya,” kata Arif.

Secara keseluruhan, kata Arif, pada tahun 2017, pendapatan usaha  PTSI diprediksi mencapai Rp 1 triliiun lebih atau meningkat sebesar 18,6 persen  dibandingkan pencapaian tahun 2016. “Tahun  2018, pendapatan usaha ditargetkanakan meningkat sebesar 20,0 persen  atau mencapai Rp 1.208 miliar,” ungkapnya.

Pada tahun 2017, laba sebelum pajak diprediksi mencapai Rp 131 miliar, atau meningkat 8,9 persen dibandingkan pencapaian tahun 2016. “Tahun 2018, laba sebelum pajak ditargetkan naik 21,2 persen  atau mencapai Rp 159 miliar,” ujarnya.

Ia menyebutkan, total aset perusahaan pada tahun 2017 diperkirakan mencapai Rp 1.243 miliar, atau naik 9,3 persen dari tahun sebelumnya.  Pada  tahun 2018, total aset perusahaan ditargetkan meningkat  8,7 persen menjadi  Rp 1.352 miliar.

Total investasi pada tahun 2017 diperkirakan mencapai Rp 90 miliar, atau meningkat  19,1 persen  dari posisi tahun 2016.  “Tahun 2018, total investasi ditargetkan naik  3,6 persen menjadi  Rp  94 miliar,” tuturnya.