Kamis , 02 November 2017, 04:09 WIB

Harga Batu Bara Diprediksi Bagus Sampai 3 Tahun Mendatang

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Budi Raharjo
Antara/Prasetyo Utomo
Truk membawa batubara di area pertambangan PT Adaro Indonesia di Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10).
Truk membawa batubara di area pertambangan PT Adaro Indonesia di Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ketua Indonesian Mining Studies, Irwandy Arif menilai, meski harga batu bara sedang naik namun perusahaan batu bara tetap harus menjaga efisiensi. Hal ini dikarenakan kenaikan harga batu bara memicu kenaikan harga operasional penambangan.

Ini dikarenakan pihak kontraktor yang selama ini ditekan harga operasionalnya karena harga rendah meminta ongkos operasional naik di tengah kondisi harga batu bara yang membaik. Meski masih diprediksi mengalami fluktuasi, namun Irwandy melihat harga batu bara hingga tiga tahun mendatang masih bagus. Berkisar di harga 60 hingga 80 dolar per ton bisa menjadi angin segar bagi perusahaan batubara nasional.

Kenaikan harga batu bara ini dipicu banyaknya pembangkit listrik yang akan mulai beroperasi pada tahun depan. Banyaknya pembangkit listrik yang mulai beroperasi maka membuat permintaan batu bara naik.

"Kalau melihat tren harga batu bara akan tetap bagus sampai tiga tahun ke depan. Tapi di satu sisi ini juga pasti akan meningkatkan harga operasional penambangan. Efisiensi masih perlu dilakukan oleh perusahaan agar ketika harga batu bara tidak lagi stabil perusahaan masih bisa melakukan perencanaan," ujar Irwandy saat dihubungi Republika, Rabu (1/11).

Irwandy juga menjelaskan, efisiensi yang dilakukan perusahaan tambang bisa melalui pemangkasan biaya biaya operasional non kegiatan tambang seperti perjalanan dinas dan ongkos rapat. Hal ini merupakan komponen efisiensi yang paling penting.

Namun, Irwandy tak menampik tak sedikit perusahaan tambang yang melakukan pemangkasan stripping ratio atau penurunan kuota penambangan. Untuk jangka pendek hal ini memang bisa dilakukan, meskipun ia menilai secara jangka panjang hal ini malah akan berbahaya bagi perusahaan tambang karena ongkos biaya yang lebih besar ke depannya.

"Ada yang menurunkan striiping ratio dari 13 persen ke 10 persen. Untuk jangka pendek tak apa. Tapi untuk jangka panjang, nantinya mereka akan dibabankan biaya untuk mengeruk tanah yang lebih besar lagi," ujar Irwandy.