Ahad , 22 Oktober 2017, 20:02 WIB

Tahun Depan Rasio Elektrifikasi Kepri 90 Persen

Rep: Rakhmat Hadi Sucipto/ Red: Hiru Muhammad
dok Rakhmat Hadi Sucipto
Tim PLN berjuang keras memasang tiang listrik di Desa Tanjung Kumbik Utara, Kecamatan Pulau Tiga Barat, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepri, Kamis (19/10).
Tim PLN berjuang keras memasang tiang listrik di Desa Tanjung Kumbik Utara, Kecamatan Pulau Tiga Barat, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepri, Kamis (19/10).

REPUBLIKA.CO.ID,  NATUNA – PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Wilayah Riau dan Kepulauan Riau (Kepri) menargetkan pada 2018 mendatang rasio elektrifikasi di Kepri mencapai 90 persen. Menurut Manager SDM dan Umum PT PLN Wilayah Riau dan Kepulauan Riau, Dwi Suryo Abdullah, saat ini rasio elektrifikasinya baru mencapai 85,8 persen.

Selain itu, menurut Dwi, masih ada 104 desa yang belum mendapat pasokan listrik di Kepri. “Kami targetkan seluruh desa bisa diterangi listrik hingga 2019 mendatang,” jelas Dwi di Natuna, Kepri, Jumat (20/10).

Dwi menjelaskan, ada banyak tantangan dan hambatan untuk mengalirkan listrik ke desa-desa yang berada di pulau-pulau kecil terluar. Secara teknis, tim PLN juga sulit untuk mengantarkan tiang-tiang listrik ke desa-desa yang menjadi target untuk dilistriki.

Begitu tiang tiba di lokasi, tim juga kesulitan membuat lubang untuk menanam tiang tersebut. “Tanah di pulau-pulau ini penuh batu yang sangat keras. Dalam sehari, bisa membuat satu lubang saja sudah untung bagi mereka,” ujar Dwi.

“Kalau di Jawa, menggali lubang itu gampang sekali. Sehari bisa dapat 30 sampai 50 lubang. Memasang tiang listriknya juga mudah,” lanjut Dwi.

 Di Pulau Jawa, menurut Dwi, untuk menyambung listrik ke rumah-rumah penduduk juga mudah. Petugas tinggal menarik kabel saja dan sumber pasokannya gampang. Di luar Jawa, khususnya di pulau-pulau, PLN harus membuat jaringan listrik yang terisolasi. Kebanyakan juga harus dibangkitkan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang sumber energinya menggunakan solar. “Ada 53 isolated di Kepulauan Riau,” katanya.

Demi menerangi seluruh desa dan memenuhi kebutuhan listrik bagi kepentingan bisnis dan industri, menurut Dwi, pihaknya telah menggelontorkan investasi sebesar Rp 721 miliar khusus untuk membeli dan mendatangkan 126 mesin pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). “Ini nilai investasi yang lumayan besar, hampir mendekati Rp 1,0 triliun. Mesin ini akan kami distribusikan ke wilayah Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau,” jelas Dwi.

Dwi menyatakan, Kepulauan Riau (Kepri) akan mendapatkan 84 unit mesin, sementara Riau hanya 42 mesin. Mesin di Kepri mampu menghasilkan energi listrik sebesar 45,5 megawatt (MW), sedangkan di Riau 35,8 MW. Jika dijumlahkan, kapasitas daya dari mesin tersebut mencapai 81,3 MW. “Investasi sebesar Rp 721 miliar tersebut hanya untuk membeli atau mendatangkan mesin saja. Belum termasuk untuk investasi lainnya,” kata Dwi.

Asisten I Bidang Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Natuna, Abdullah, menyatakan kehadiran listrik sangat penting bagi wilayahnya. Pihaknya membutuhkan kepastian pasokan listrik dari PLN untuk menawarkan investasi di berbagai bidang.

Apalagi, Presiden Joko Widodo sudah mencanangkan lima sektor yang harus terintegrasi di Kabupaten Natuna, yaitu sektor kelautan dan perikanan, pariwisata, minyak dan gas (migas/energi), lingkungan, serta pertahanan dan keamanan. “Lima sektor tersebut tentu membutuhkan pasokan listrik yang berkelanjutan. Pelaku bisnis dan industri juga menanyakannya,” ujar Abdullah.