Kamis , 12 Oktober 2017, 17:36 WIB

Len Industri Garap Proyek Senilai Rp 6 Triliun

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Nidia Zuraya
Logo PT Len Industri (Perser).
Logo PT Len Industri (Perser).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- PT Len Industri (Persero) mengaku telah menggarap proyek senilai Rp 6 triliun pada tahun ini. Menurut Direktur Utama Len Industri Zakky Gamal Yasin, proyek senilai Rp 6 triliun tersebut rinciannya adalah sebesar Rp 2 triliun berasal dari kontrak baru dan Rp 4 triliun carry over tahun lalu.

"Dengan capaian tersebut, kinerja operasional Len memang terdongkrak signifikan," ujar Zakky usai acara perayaan HUT ke-26 Len di Bandung, Kamis (12/10).

Zakky mengatakan, kontribusi nilai proyek terbesar tahun ini berasal dari unit bisnis divisi transportasi. Yakni, proyek senilai Rp 700 miliar untuk pemasangan instalasi elektronikLight Rapid Transit(LRT) yang pengerjaannya dilakukan oleh Jakpro.

"Proyek LRT kan ada yang dikerjakan PT KAI dan Adhikarya, kami mengerjakan yang dikerjakan Jakpro," kata Zakky.

Nilai proyek terbesar kedua, kata dia, berasal dari pemasangan alat komunikasi pertahanan. Pada tahun ini, Len dipercaya untuk melengkapi Tank Leopard dengan sistem komunikasi elektronik.

"Nilainya Rp 248 miliar," katanya.

Menurut Zakky, Len pun berhasil memperoleh proyek revitalisasi sistem persinyalan dari PT KAI. Pada proyek tersebut, Len akan diberikan tugas memodernisasi persinyalan kereta untuk wilayah Jabodetabek. Nilai proyek persinyalan kereta tersebut, sebesar Rp 2 triliun. Harapannya, Len dapat meneken kontrak sebelum akhir tahun ini.

"Revitalisasi sesuai keinginan KAI untuk mendongkrak jumlah penumpang dari 1 juta penumpang per hari menjadi 2 juta," katanya.

Saat ini, kata dia, Len tengah mengebut pengerjaan Skytrain di Bandara Soekarno-Hatta. Proyek tersebut, capaianya telah 80 persen. Selain itu ada LRT Palembang yang ditargetkan selesai Februari.

"Jadi, nanti dapat digunakan saat Asean Games, katanya.

Zakky mengatakan, banyak perubahan yang dilakukannya setahun ini. Yakni, diawal tahun mengubah struktur organisasi. Selain itu, mengubah Unit bisnis yang awalnya hanya sebagai call center menjadi bisnis center. Serta di dorong, untuk menghasilkan laba.

"Unit bisnis kami sekarang harus bekerja lebih efisien lagi. Yang dipikirkan pun profit bukan menghabiskan anggaran," katanya. 

Berita Terkait