Senin , 20 January 2014, 18:03 WIB

Inovasi Buat Masjid Mandiri

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Julkifli Marbun
Arabian Business
Pengurus inovatif jadikan masjid mandiri. Jemaah dipenuhi keberkahan tanpa merasa 'diperas' atau diganggu (Ilustrasi)
Pengurus inovatif jadikan masjid mandiri. Jemaah dipenuhi keberkahan tanpa merasa 'diperas' atau diganggu (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memiliki usaha sendiri membuat masjid lebih mandiri tanpa khawatir terbatas kepentingan pihak tertentu. Kemandirian finansial juga membuat masjid bisa membantu lebih banyak umat Muslim dengan tetap menjaga nilai manfaat dan kehalalan hasil usaha.

Masji Sunda Kelapa mengembangkan usaha yang masih memiliki kerterkaitan dengan ibadah dan kegiatan masjid, seperti memanfaatkan aset untuk pusat ATM (galeri ATM) dan menara masjid yang disewakan untuk provider telepon selular.

Ketua Dewan Pengurus Masjid Agung Sunda Kelapa HM Aksa Mahmud mengatakan bidang usaha masjid juga mengumpulkan khutbah jumat satu tahun untuk dibukukan dan dijual kepada jamaah seharga Rp 60 ribu eksemplar. Setiap tahun, dua hingga tiga kumpulan khutbah jumat bisa diterbitka.

Khotib yang umumnya para mubaligh hebat menjadi daya tarik ramainya kumpulan khutbah dicari jamaah. Kumpulan ceramah dhuha dan ceramah shubuh jumat juga dicetak. "Bahkan ada seorang jamaah yang membeli 100 eksemplar tiap terbit untuk dikirim ke kampungnya sehingga bisa dibaca khotib kampungnya agar ilmu dan pandangan mereka meluas," tutur Aksa.

Aktivitas seperti silaturahim jamaah saat sholat subuh jumat juga digunakan sebagai sarana sosial. Masjid mengundang jamaah yang ingin bersedekah dan penerima sedekah. Sementara celengan subuh dari jamaah diberikan kepada penceramah subuh.

Aksa juga mengatakan sedang membenahi radio Masjid Agung Sunda Kelapa. Sudah ada iklan yang berkaitan syariah, satu bank syariah sudah ada yang memasang iklan. Aksa berharap setelah beroperasi, radio bisa membiayai sendiri dan berkontribusi untuk masjid.

Sekolah yang dijalankan Masjid Agung Sunda Kelapa pada 2012 masih disubsidi dan berhenti disubdisi 2013 tidak. 2014 ini diharapkan sudah ada kontribusi yang bisa diperoleh dari sana. "Jadi  kami menjalankan usaha yang berkaitan dengan ibadah tapi tetap bermanfaat dan halal," ungkap Aksa.

Walau usaha, seperti pencetakan kumpulan khutbah Jumat, pasang surut, tapi semua usaha produktif. Jika digabung dengan celengan Jumat, surplus bisa mencapai Rp 1 miliar. Tahun lalu surplus bahkan mencapai Rp 2 miliar setelah ada sedekah dari jamaah. Selaturahim dan terus berbagi jamaah menjadi salah satu kunci, selain pengelolaan yang tepat.

Aksa mengatakan setiap bidang dalam kepengurusan masjid diserahkan kepada orang yang ahli. Kepala bidang usaha diserahakan kepada Ismed Hasan, direktur utama PT Rajawali Nusantara Indonesia, yang juga merangkap sekretaris masjid. "Tempatkan orang yang ahli di bidangnya, seperti yang dikatakan Nabi SAW," kata Aksa.

Seluruh operasional masjid dikelola penuh oleh karyawan masjid. Sementara anak-anak 225 dhuafa di masjid dididik melalui pengajian tiap pekan.