Sabtu , 20 May 2017, 09:52 WIB

Bermodal Awal 2,5 Juta, Bank BJB Jadi Salah Satu Bank Nasional Terbesar

Red: Bayu Hermawan
ROL/Fakhtar K Lubis
Gedung bank BJB
Gedung bank BJB

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG --  PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Barat dan Banten atau yang akrab dikenal Bank BJB merayakan ulang tahun yang ke-56. Bank BJB telah melalui perjalanan panjang dari mulai bank yang bergerak di bidang hipotek, hingga kini menjadi bank terbesar dan berkinerja baik di tanah air.

Pada awal berdiri, bank ini bernama De Erste Nederlansche Indische Shareholding atau disingkat menjadi NV Denis. Ketika terbit Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 33 tahun 1960 tentang Penentuan Perusahaan milik Belanda yang dinasionalisasikan, perusahaan ini pun diambil alih oleh pemerintah.

Melalui Surat Keputusan Gubernur Jabar nomor 7/GKDH/BPD/61 tertanggal 20 Mei 1961, NV Denis berubah nama menjadi PD Bank Karya Pembangunan. Dengan modal awal Rp 2,5 juta, bank ini pun mulai beroperasi.

Progres bank tersebut terus melejit. Pada 1992 aktivitas Bank Pembangunan Daerah Jabar melonjak menjadi Bank Umum Devisa. Lonjakan aktivitas itu dilandasi Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 25/84/KEP/DIR tanggal 2 November 1992.

Dengan tekad menjadi yang terdepan dalam bidang perbankan, Bank Jabar berubah dari perusahaan daerah (PD) menjadi perseroan terbatas (PT), dan disahkan oleh Menteri Kehakiman RI tertanggal 16 April 1999.

Bank Jabar terus memacu untuk menjadi yang terbaik di kelasnya. Tercatat Bank Jabar menjadi BPD pertama yang memberlakukan dual bank system, yakni konvensional dan syariah.

Perubahan lain yang dilakukan untuk semakin menjadi yang terbaik adalah dengan mengubah nama PT BPD Jabar menjadi PT BPD Jabar Banten, melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) PT BPD Jabar tertanggal 3 Juli 2007 di Bogor.

Memasuki 2010, Bank Jabar Banten mulai menancap gas untuk menjadi bank yang diperhitungkan di Tanah Air. Ada tiga corporate action yang terjadi di 2010. Ketiganya yakni spin off unit usaha syariahnya menjadi Bank Usaha Syariah (BUS). Bank Jabar Banten Syariah lahir atas Keputusan Bank Indonesia No.12/35/Kep-GBI/2010 tertanggal 30 April 2010 tentang Izin Usaha BJBS.

Pada Juli 2010, Bank Jabar Banten berhasil mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bank Jabar Banten menjadi BPD pertama yang menggulirkan Initial Public Offering (IPO).

Corporate action ketiga, yakni perubahan call name dari Bank Jabar Banten menjadi Bank BJB. Dengan call name baru, bank ini menjadi tampil lebih professional dan sukses dalam menopang perekonomian bangsa.

Di triwulan I 2017, Bank BJB berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp 446 miliar dengan nilai aset di atas Rp 105 triliun. "Dalam kondisi tantangan ekonomi yang ketat, kinerja Bank BJB justru mengalami pertumbuhan," ujar Dirut Bank BJB Ahmad Irfan.

Irfan melanjutkan, dari sisi kredit, pihaknya mengalami pertumbuhan sebesar 13,6 persen. Per triwulan I 2017, total kredit yang disalurkan Bank BJB mencapai Rp 62,7 triliun.

Sementara rasio kredit bermasalah (NPL), papar Irfan, berhasil ditekan menjadi 1,62 persen di triwulan I 2017. Angka NPL kali ini, jauh lebih baik ketimbang NPL di triwulan I tahun 2016 yang mencapai 2,84 persen.

Memasuki usia ke-56, Bank BJB telah memiliki 2.154 jaringan kantor yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu, BJB menyandang ranking ke-14 dari ratusan bank nasional terbesar dan berkinerja baik.