Sabtu , 20 May 2017, 09:25 WIB

Bank BJB Dinilai Bisa Menjadi Top 10 Bank Nasional Berkinerja Terbaik

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nur Aini
Republika/Edi Yusuf
Dirut Bank BJB Ahmad Irfan (kanan) dan Kepala OJK Regional Jabar Sarwono (kiri) mencoba berfoto di salah satu stand Travel Fair pada Bazaar UMKM dan Travel Fair 2017 di halaman kantor pusat Bank BJB, Kota Bandung, Kamis (18/5).
Dirut Bank BJB Ahmad Irfan (kanan) dan Kepala OJK Regional Jabar Sarwono (kiri) mencoba berfoto di salah satu stand Travel Fair pada Bazaar UMKM dan Travel Fair 2017 di halaman kantor pusat Bank BJB, Kota Bandung, Kamis (18/5).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- PT Bank Jabar Banten (BJB) dinilai sukses bertransformasi menjadi bank berskala nasional. Kini bahkan berada di peringkat ke-14 bank nasional berkinerja baik.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira menuturkan, dalam beberapa tahun terakhir BJB memang tampak melakukan berbagai inovasi. "Jika BJB bisa meningkatkan performanya saya yakin akan masuk top 10 bank nasional dengan kinerja terbaik," ujarnya kepada Republika.co.id, baru-baru ini.

Ia memaparkan ada tiga kelebihan BJB dibandingkan bank Pembangunan Daerah (BPD) lainnya.  Pertama, perseroan mampu mendiversifikasi struktur pendanaan yang sebelumnya bergantung pada kas Pemerintah Daerah. Kedua, dari segi layanan, BJB juga mampu memperluas ke perbankan digital atau e-banking.

"Ketiga, BJB dinilai kompetitif dari segi pembiayaan dan penyaluran kreditnya semakin berkualitas. Terlihat dari NPL (rasio kredit bermasalah) yang jauh di bawah tiga persen rata-rata NPL bank nasional," kata Bhima.

Menurutnya, ada beberapa langkah yang harus dilakukan BJB agar bisa disejajarkan dengan bank nasional besar lain. Langkah itu di antaranya, menyalurkan pembiayaan ke sektor riil, karena bisa mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Barat (Jabar) serta nasional. "Kehadiran BJB juga dinilai penting untuk meningkatkan inklusi keuangan bagi masyarakat di daerah," tutur Bhima.

Kemudian, BJB pun diharapkan turut berperan dalam pembiayaan ke sektor industri manufaktur yang menyerap tenaga kerja besar juga lebih agresif dalam membiayai sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Hal itu karena, menurut Bhima, Jabar merupakan kawasan industri strategis penopang ekonomi nasional.