Senin, 7 Sya'ban 1439 / 23 April 2018

Senin, 7 Sya'ban 1439 / 23 April 2018

Bank Muamalat Bidik Kelas Menengah untuk Pembiayaan Perumahan

Senin 10 April 2017 14:54 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Nur Aini

Ilustrasi perumahan rakyat.

Ilustrasi perumahan rakyat.

Foto: Antara/Ari Bowo Sucipto

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Segmen kelas menengah dinilai sangat prospektif untuk sasaran pembiayaan. Untuk itu, PT Bank Muamalat Indonesia Tbk membidik pembiayaan segmen konsumer tumbuh sebesar Rp 2 triliun, dan sebanyak 90 persennya dari segmen Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Direktur Utama Bank Muamalat, Endy Abdurrahman menjelaskan, pada tahun ini pembiayaan ditargetkan tumbuh 10 persen dari realisasi tahun lalu yang sebesar Rp 40,01 triliun. Dari jumlah tersebut, pada tahun lalu segmen korporasi menyumbang sebesar Rp 23,3 triliun, sedangkan segmen konsumer Rp 16,71 triliun.

"Dengan negara berpenduduk besar, perumahan masih sangat diminati. Jadi kami akan lebih mendorong segmen konsumer khususnya KPR pada tahun ini," ujar Endy pada Republika.co.id, Senin (10/4).

Masyarakat kelas menengah di Indonesia diperkirakan mengalami pertumbuhan pesat. Berdasarkan beberapa riset, pada 2030 diperkirakan Indonesia akan menduduki peringkat kelima dari sisi pendapatan masyarakat kelas menengah. Untuk itu, Endy menilai segmen konsumer ini sangat tepat untuk dikembangkan.

Apalagi dari segi budaya, kata Endy, masyarakat Asia tidak hanya memiliki satu rumah, sehingga prospek pembiayaan perumahan sangat besar dan menguntungkan. Pada tahun ini, Muamalat akan mendorong porsi pembiayaan yang tadinya korporasi sebesar 60 persen dan konsumer 40 persen, menjadi  seimbang yakni masing-masing 50 persen.

"Kita harus kembali ke kebutuhan masyarakat. Dari segi risiko, sektor ini juga sangat manageable. Risk management sangat termitigasi dengan baik, makanya kita dorong ke segmen ini," kata Endy.

Sedangkan porsi segmen korporasi diperkecil karena pada tahun lalu menyumbang rasio pembiayaan bermasalah (Nonperforming Financing/NPF) gross yang besar, yakni hingga 3,8 persen. Bahkan angka tersebut masih melesat hingga Maret 2017 di posisi 4,5 persen. Hal ini dikarenakan sektor komoditas sedang lesu pada tahun lalu, sehingga banyak dilakukan restrukturisasi.

Sedangkan NPF bersih berada di posisi 1,4 persen. Kendati begitu, Endy menegaskan bahwa rasio NPF kotor pada tahun ini akan dapat menyentuh angka 3,0 persen per akhir tahun. "Memang masih naik sampai Maret 2017. Tapi nanti di kuartal II bisa turun 3,5 persen dan akhir tahun bisa 3,0 persen," kata Endy.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA