Senin , 20 Maret 2017, 22:00 WIB

Pendapatan Home Credit Tembus Rp 1,9 T

Rep: Erik Purnama Putra/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
dok hci
CEO HCI Jaroslav Gaisler berbicara dalam konferensi pers kinerja perusahaan
CEO HCI Jaroslav Gaisler berbicara dalam konferensi pers kinerja perusahaan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Home Credit Indonesia (HCI) mencatatkan pertumbuhan luar biasa pada 2016. CEO HCI Jaroslav Gaisler mengatakan, kinerja perusahaannya membukukan pendapatan sebesar Rp 1,9 triliun dan melayani lebih 750 ribu pelanggan. Pembiayaan yang dilakukan HCI didominasi ponsel dan barang eletkronik, seperti televisi dan laptop.

"Meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2015 periode yang sama," katanya di Jakarta, Senin (20/3).

Jaroslav mengutip data per akhir Februari lalu, HCI mampu mengelola risiko pembiayaan bermasalah di angka 0,5 persen atau di bawah batas yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dia merasa bangga dengan pencapaian itu dan akan memperkuat komitmen untuk menjadi perusahaan terpercaya di Indonesia.

Jaroslav menyatakan, perusahaannya ingin menjadi nomor satu di bidang pembiayaan ponsel dan barang elektronik. Dia optimistis hal itu bisa tercapai dengan pembukaan kantor baru dan menambah titik penjualan. "Pada Maret 2015, market share kami dua persen. Pada Maret 2017, market share sudah 32 persen. Itu kita sekarang nomor dua di market share yang kita biayai," ujarnya.

Chief External Affairs PT HCI, Andy Nahil Gultom mengatakan, sejak berdiri 2013 hingga sekarang, perusahaannya terus berekspansi dengan cepat. Hingga kini, HCI telah hadir di 37 kota dan 5.000 titik distribusi penjualan. Pada November mendatang, pihaknya akan membuka kantor baru di Manado dan Ambon. "Kami mengawali tahun ini dengan berekspansi ke Pulau Kalimantan dan Sumatra. Diharapkan pada akhir 2017, kami akan beroperasi di seluruh wilayah Indonesia," kata Andy.

Meski sudah empat tahun beroperasi di Indonesia, Andy mengaku HCI belum mencatatkan keuntungan. Pihaknya sedang fokus untuk penetrasi ke beberapa kota besar demi menggaet lebih banyak konsumen. Karena itu, pada tahun ini target pembiayaan perusahaan mencapai Rp 4,8 triliun.

Angka itu meningkat drastis dibandingkan realisasi 2016 sebesar Rp 1,9 triliun. "Kita belum untung. Tahun ini kita break event point (balik modal)," ujar Andy. Erik Purnama Putra