Ahad , 19 Maret 2017, 17:35 WIB

Bio Farma Siap Luncurkan Tifoid Konjugat

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Dwi Murdaningsih
Proses pembuatan vaksin di PT Biofarma.  (dok. Bio Farma)
Proses pembuatan vaksin di PT Biofarma. (dok. Bio Farma)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG---PT Bio Farma (Persero) akan meluncurkan vaksin tifoid konjugat pada awal 2019. Dari sekian banyak vaksin yang diteliti, vaksin tifoid sudah paling siap untuk diproduksi.

Menurut Project Integration Manager of Product Development Division PT Bio Farma (Persero), Erman Tritama secara global kebutuhan vaksin pencegah penyakit tifoid (tifus) tersebut diprediksi mencapai 180 juta dosis pada 2024. Namun, pada tahap awal, Bio Farma akan memproduksi minimal 20 juta dosis per tahun untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Permintaan global tinggi. Namun, prioritas utamanya kami akan memproduksi untuk memenuhi kebutuhan lokal. Jika ada kelebihan, baru akan diekspor," ujar Erman kepada wartawan pada Media Gathering Bio Farma Contribution to The World di Glamping Lakeside Rancabali, Kabupaten Bandung, Ahad (19/3).

Menurut Erman, selain vaksin tifoid konjugat, pada 2019 Bio Farma juga berencana meluncurkan beberapa vaksin. Yakni, vaksin ratovirus dan pneumo minimal masing-masing 20 juta dosis. Bio Farma juga akan meluncurkan biosimilar untuk kanker payudara.

"Secara teknologi, tifoid konjugat lebih baik dari dua vaksin tifoid yang saat ini ada di pasaran," katanya.

Eman mengatakan, kelebihan vaksin Tifoid konjugat, adalah bisa diberikan pada anak di bawah usia dua tahun. Sementara vaksin yang ada saat ini, tidak bisa diberikan pada anak bayi. Selain itu, vaksin tifoid konjugat juga bisa memproteksi lebih lama. Yakni, cukup diberikan dua kali untuk kekebalan seumur hidup.

"Tidak perlu diulang setiap dua atau tiga tahun. Kalau vaksin tifoid yang lain kan harus diulang," katanya.

Terkait harga, kata dia, PT Bio Farma rencananya akan memberikan harga lebih murah dari vaksin yang ada. Yakni, harganya akan kurang dari 30 persen dari harga vaksin tifoid yang beredar saat ini.

Sedangkan untuk biosimilar, kata Erman, Bio Farma akan meluncurkan segera produk tersebut setelah paten yang dimiliki produsen saat ini habis. Hak paten perusahaan tersebut, akan habis pada 2019.

"Target produksinya sama, 20 juta dosis per tahun. Harganya, 30 persen dari harga yang dibanderol produsen saat ini," kata Erman.

Saat ini, kata dia, harga biosimiliar kanker payudara saat ini adalah Rp 25 jutwa per dosis dan setiap penderita kaker payudara minimal harus melakukan lima kali terapi atau dengan kata lain memerlukan biaya minimal Rp 125 juta. PT Bio Farma sendiri, akan menetapkan harga sekitar Rp 7,5 juta per dosis.