Sabtu , 11 Februari 2017, 06:34 WIB

Rio Tinto akan Putus Kerja Sama dengan Freeport di Papua

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya
Reuters/Stringer
 Aktivitas penambangan di areal pertambangan Grasberg PT Freeport, Mimika, Papua.
Aktivitas penambangan di areal pertambangan Grasberg PT Freeport, Mimika, Papua.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perusahan tambang tembaga terbesar nomer dua di dunia, Rio Tinto mempertimbangkan untuk hengkang dari kepemilikan sahamnya di tambang Grasberg yang dioperasikan oleh Freeport McMoran Inc. Langkah ini diambil karena mereka nilai adanya ketidakpastian hukum terkait operasi masa depan pertambangan.

CEO Rio Tinto, Jean Sebastian Jacques mengatakan pihaknya tak meragukan bahwa tambang tembaga Grasberg merupakan saah satu sumber daya berkualitas di dunia. Namun, pascapemerintah Indonesia mengeluarkan peraturan baru terkait izin usaha pertambangan ia menilai hal ini menimbulkan ketidak pastian iklim usaha.

Dilansir dari Reuters, Rio Tinto akan memutuskan apakah pihaknya akan hengkang dari tambang Grasberg atau tidak dalam beberapa pekan mendatang. Jean mengatakan pihaknya akan memutuskan apakah akan menjual 40 persen saham nya dalam tambang Grasberg atau tidak melihat situasi seperti ini.

"Kita masih melihat apa yang terjadi sebelum mengambil langkah untuk menggelontorkan sejumlah dana untuk investasi dalam proyek ini. Sebab kami juga masih memerlukan banyak investasi pada tahun mendatang," ujar Jean, Jumat (10/2).

Kerja sama antara Freeport dan Rio yang terjalin sejak 1995 ini membuat Rio mendapatkan saham 40 persen dari produksi tambang tembaga Grasberg. Rio sempat berharap pihaknya mendapatkan keuntungan produksi selama 2017 ini. Namun, Freeport sendiri malah belum melakukan produksi apapun sejak 2014 kemarin.

Juru bicara Freeport Indonesia Riza Pratama mengatakan kepada wartawan bahwa di tengah penghentian ekspor, konsentrat tembaga stockpile gudang Grasberg sekarang "hampir penuh". Hal ini menunjukkan bahwa pemotongan produksi akan segera terjadi tanpa terobosan.