Selasa , 02 January 2018, 08:47 WIB

Nippon Life Incar Investasi Luar Negeri

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Gita Amanda
Reuters
Presiden Nippon Life Insurance Co, Yoshinobu Tsutsui.
Presiden Nippon Life Insurance Co, Yoshinobu Tsutsui.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Nippon Life Insurance Co Jepang mencari peluang investasi di obligasi-obligasi asing dan aset alternatif lainnya. Ini dilakukan setelah rencana investasi di perusahaan pegelola investasi TWC Group AS gagal.

''Perusahaan manajemen aset merupakan bisnis yang bisa bersinergi dengan asuransi jiwa dan harus beroperasi secara global. Kami sedang mencari mitra potensial,'' kata Presiden Nippon Life Insurance Co, Yoshinobu Tsutsui seperti dikutip Reuters, akhir pekan lalu.
 
Pencarian manajemen aset di luar negeri oleh Nippon Life dipicu keinginan perusahaan asuransi terbesar di Jepang itu memindahkan dana kelolaan dari obligasi pemerintah Jepang ke instrumen dengan imbal hasil lebih tinggi. Industri asuransi di Jepang terpukul keras dengan terus tergerusnya imbal hasil investasi seiring kebijakan Bank Sentral Jepang (BOJ) yang melakukan pelonggaran kebijakan moneter agresif sejak April 2013.
 
Tsutsui mengatakan, target potensial Nippon Life adalah perusahaan manajemen aset yang ahli dalam investasi obligasi. Sebab, portofolio perusahaan yang memiliki aset sekitar 74 triliun yen (653,25 miliar dolar AS) itu selama ini memang didominasi instrumen dengan imbal hasil tetap.
 
Tsutsui juga mengatakan perusahaannya juga mencari instrumen investasi alternatif lainnya yang berbasis properti untuk mendiversifikasi pendapatan mereka. ''AS punya pasar manajemen aset yang dalam. Ada beberapa perusahaan yang kami pikir unik, kami akan tetap mencari di sana,'' kata Tsutsui.
 
Ia mengakui, sambil menunggu investasi baru ke obligasi pemerintah Jepang, kenaikan suku bunga di AS memang jadi tantangan para penerbit obligasi untuk meningkatkan imbal hasil kupon. ''Suku bunga naik juga meningkatkan biaya lindung nilai. Itu akan menggerus imbal hasil atas dana kelolaan,'' ucap Tsutsui.
 
Memang ada tantangan sendiri saat menyusun komposisi obligasi asing. Saat ini, kata Tsutsui, obligasi pemerintah Prancis sedang jadi perhatian.
 
 

Berita Terkait