Senin , 18 December 2017, 17:02 WIB

Musim Paceklik, Ribuan Nelayan Karawang Terjerat Rentenir

Rep: Ita Nina Winarsih/ Red: Nur Aini
Antara
Nelayan tradisional membenahi jaring (ilustrasi).
Nelayan tradisional membenahi jaring (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, KARAWANG -- Memasuki musim paceklik, ribuan nelayan asal Kabupaten Karawang terjerat rentenir. Dari jumlah nelayan yang mencapai 8.421 jiwa, 50 persennya terlilit jeratan lintah darat tersebut.

Kondisi ini, disebabkan keluarga nelayan kesulitan ekonomi. Sehingga, salah satu solusinya mereka meminjam uang ke rentenir dengan bunga yang cukup tinggi.

Wakil Ketua DPC HNSI Kabupaten Karawang, Sahari, mengatakan, kondisi ini sudah berlangsung lama serta tak bisa dicegah. Hal ini karena, nelayan sangat terdesak kebutuhan ekonomi, terutama bila memasuki musim paceklik. Sasaran pinjamannya yaitu rentenir atau bank emok (cara wanita duduk).

"Yang paling mudah itu, meminjam uang ke rentenir. Meskipun bunganya tinggi, tapi syaratnya mudah. Mungkin ini jadi salah satu alasan banyaknya nelayan yang pinjam ke rentenir," ujar Sahari, kepada Republika.co.id, Senin (18/12).

Menurutnya, HNSI tak bisa berbuat banyak dengan kondisi ini. Apalagi, hal ini menyakut dengan kebutuhan sehari-hari nelayan. Salah satu upaya yang dilakukan HNSI untuk meminimalisasi nelayan memimjam ke rentenir, yaitu dengan mengusulkan bantuan ke pemerintah serta, meminta diadakannya pelatihan-pelatihan keterampilan supaya, para isteri ataupun anak dari nelayan ini memiliki keterampilan yang bisa meningkatkan kesejahteraan keluarganya seperti, keterampilan mengolah ikan atau lainnya. Kerja sama keterampilan ini, biasanya dibantu oleh pemerintah maupun perusahaan swasta.

"Tetapi, kalau musim paceklik tiba, banyak nelayan yang nganggur. Maka, ikan yang diolahnya juga menurun. Dengan begitu, keluarga nelayan ini akan kembali terjerat rentenir," ujarnya.

Darpin (43 tahun), nelayan asal Kampung Pasir Putih, Desa Sukajaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, membenarkan bila banyak nelayan yang terjerat rentenir. Hal ini karena, pinjam uang ke mereka jauh lebih mudah dibanding ke perbankan. Cukup dengan foto copy KTP, uang bisa langsung cair dalam hitungan jam.

"Untuk membayarnya, kami menunggu sampai musim paceklik berlalu. Sebab, selama cuaca buruk, nelayan sulit mencari ikan," ujarnya.

Uang yang dipinjam dari rentenir ini, kata Darpin, dipergunakan untuk berbagai hal seperti, kebutuhan dapur, uang jajan anak, serta membayar utang ke tetangga, ataupun juragan kapal. Dengan kata lain, nelayan juga banyak yang mempraktikan gali lobang tutup lobang. Pinjam sana sini, untuk menutup utang lagi.