Rabu , 06 Desember 2017, 15:45 WIB

Transaksi Nontunai Dinilai Cegah Kejahatan Keuangan

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nur Aini
Antara/Muhammad Adimaja
Karyawan toko mengesekan kartu debit di mesin Electronic Data Capture (EDC) di Jakarta, Selasa (5/9).
Karyawan toko mengesekan kartu debit di mesin Electronic Data Capture (EDC) di Jakarta, Selasa (5/9).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) menekankan pentingnya penggunaan nontunai dalam bertransaksi. Salah satu manfaatnya, yakni mengurangi ketergantungan masyarakat untuk memakai uang tunai.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI Eni V Panggabean menyebutkan, ada beberapa keuntungan dengan bertransaksi menggunakan nontunai di antaranya, seluruh transaksi tercatat dan terpantau dalam sistem.

"Dengan nontunai bisa memitigasi aktivitas ilegal," ujar Eni dalam diskusi 'Transaksi Zaman Now, Bye-Bye Tunai' di Jakarta, Rabu, (6/12). Ia menambahkan, kini beberapa transaksi seperti transportasi, bayar jalan tol, serta penyaluran bantuan sosial (bansos) sudah mulai menggunakan nontunai.

Meski begitu, Eni mengakui memang tidak mudah mengubah pemikiran masyarakat supaya lebih memilih nontunai dalam bertransaksi. "Masyarakat kita ubah mindset-nya memang cukup berat," katanya.

Direktur Utama PT Kereta Api (KAI) Adi Sukmoro menambahkan, sekarang perseroan telah memberlakukan transaksi nontunai. Salah satunya melalui penggunaan uang elektronik untuk perjalanan KRL Commuter Line di Jabodetabek.

"Perjalanan jarak jauh juga tiket bisa langsung dibeli lewat website KAI. Bagi pengguna KRL harus sudah pula punya kartu multitrip supaya perjalanan lebih mudah," kata Adi.