Selasa , 14 November 2017, 18:17 WIB

BEI Sebut Investor Saham di Jawa Tengah Minim

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Nur Aini
Tahta Aidilla/Republika
 Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio

REPUBLIKA.CO.ID, UNGARAN — Bursa Efek Indonesia menyebut investor saham di Jawa Tengah masih minim meski berpenduduk lebih dari 30 juta jiwa. Selain itu, perusahaan berskala besar di Jateng belum banyak yang menjual saham ke publik atau IPO.

Hal ini ditegaskan oleh Direktur Utama (Dirut) PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Tito Sulistio saat menghadiri ulang tahun ke-66 Industri jamu dan farmasi PT Sido Muncul Tbk, di Ungaran, Jawa Tengah, Selasa (14/11).

Tito menyayangkan kondisi daerah dengan jumlah penduduk terbesar ketiga secara nasional ini. Karena investor di Jawa Tengah sebenarnya juga cukup besar. “Pengalaman juga membuktikan banyak perusahaan yang ''selamat'' karena penawaran umum perdana (IPO),” ungkapnya.

Ia mengungkapkan, keberlangsungan perusahaan tidak hanya faktor performa perusahaan atau modalnya efisien, tetapi kelanggengannya. Banyak perusahaan yang turun dan jatuh bukan karena performanya jelek. Tetapi, karena masalah personal pemilik.

Khusus di Jawa Tengah, Tito menilai belum terlalu banyak yang memiliki saham. Sehingga BEI akan terus menguatkan kantor perwakilan daerah ini, kendati hingga saat ini tercatat sudah ada 20 galeri investasi di Jawa Tengah.

Ia bahkan mengakui hampir semua Fakultas Ekonomi universitas negeri yang ada di Jawa Tengah ini sudah memiliki galeri investasi ini. BEI bahkan juga mempunyai pendidikan pasar modal di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Sehingga, saat mahasiswa selesai kuliah langsung mendapatkan lisensi.

Guna memperkuat edukasi, BEI bahkan akan memisah kantor perwakilan menjadi dua yakni kantor perwakilan Semarang dan Kantor Perwakilan Solo nantinya dibedakan. Total saat ini BEI memiliki hampir 340 galeri investasi dan kantor perwailan di 310 universitas yang ada di tanah air.

Ia juga menyampaikan, sekarang ini, asing melakukan penjualan bersih saham atau net foreign sell hingga Rp 24 triliun lebih. Tetapi pasar modal di negeri ini bukannya turun, tetapi tetap naik. Hal ini karena investor domestiknya kuat sekali.

Pada 2016 tercatat ada 110 ribu investor domestik, tahun ini sudah ada 90 ribu investor domestik baru. “Ini kontribusinya cukup besar hingga domestic market kita cukup kuat sekarang. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di angka 6.000 berkat kuatnya domestic market walaupun asing jual,” ujarnya.