Rabu , 01 November 2017, 13:09 WIB

Bank OCBC NISP Angkat Betti Alisjahbana Sebagai Komisaris

Rep: Binti Sholikah/ Red: Nidia Zuraya
Republika/ Wihdan
Betti S Alisjahbana
Betti S Alisjahbana

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rapat Umum Pemegang SahamLuar Biasa(RUPSLB)Bank OCBC NISP yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (1/11), mengangkat Betti S Alisjahbana menjadi Komisaris Independen Bank OCBC NISP. Masa jabatan Betti akan efektif setelah memperoleh persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sampai dengan ditutupnya Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Perseroan pada 2020.

Betti S Alisjahbana meniti karier diIBM Indonesia serta IBM ASEANdanAsia Selatanpada 1984-2008 dengan posisi terakhir sebagai Presiden Direktur PT IBM Indonesia.

Setelah itu Betti menjabat sebagai Komisaris Independen di berbagai perusahaan antara lain PT Sigma Cipta Caraka-Telkom Sigma (2010-2017), PT Garuda Indonesia Tbk (2012-2014), PT Bhinneka Mentari Dimensi (2015-2017), PT Anabatic Technologies Tbk (2015-saat ini). Di samping itu, saat ini Betti juga menjabat sebagai Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak 2014.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Direktur Bank OCBC NISP, Parwati Surjaudaja, menyatakan menyambut gembira bergabungnya Betti S Alisjahbana sebagai Komisaris Independen Bank OCBC NISP. "Dengan pengalaman yang sangat kaya di bidang teknologi dan bidang lainnya, kami yakin Ibu Betti akan memberikan kontribusi optimal untuk kemajuan Bank OCBC NISP pada khususnya secara berkelanjutan di masa yang akan datang, dan bahkan untuk perbankan pada umumnya," kata Parwati melalui siaran pers.

Di samping itu, perseroan telah mempublikasikan hasilkinerjasampai dengan kuartal III 2017 pekan lalu. KinerjaBank OCBC NISPmenunjukan hasilpositif dengan adanya pertumbuhan laba bersih sebesar23 persen(yoy) menjadi Rp 1,7 triliun.

Sejalan denganpertumbuhan laba bersih, Bank OCBC NISP juga berhasil meningkatkan asetnya sebesar16 persen (yoy) menjadi Rp 149,8 triliun. Kenaikan total aset ini terutama didorong oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh 20 persen (yoy) menjadiRp 114,8 triliun, sertapertumbuhan kredit (gross) sebesar 17 persen (yoy) menjadi Rp 103,3 triliun.