Kamis , 19 Oktober 2017, 19:14 WIB

BI Pertahankan Suku Bunga Acuan

Rep: Ahmad Fikri Noor/ Red: Nur Aini
Republika/Prayogi
 Petugas keamanan melintas didekat logo Bank Indonesia (BI), Jakarta, Ahad (1/10).
Petugas keamanan melintas didekat logo Bank Indonesia (BI), Jakarta, Ahad (1/10).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 4,25 persen, dengan suku bunga Deposit Facility tetap 3,5 persen dan Lending Facility tetap lima persen. Keputusan itu berlaku efektif sejak 20 Oktober 2017.

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI Dody Budi Waluyo mengaku, keputusan tersebut konsisten dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan. Hal itu juga dapat mendorong laju pemulihan ekonomi dengan tetap mempertimbangkan dinamika perekonomian global maupun domestik.

"Tingkat suku bunga kebijakan saat ini dinilai masih memadai untuk menjaga laju inflasi sesuai dengan sasaran dan defisit transaksi berjalan pada level yang sehat," kata Dody di Jakarta, Kamis (19/10).

Dody mengaku, BI tetap mewaspadai sejumlah risiko yang berasal dari global. Hal itu terkait rencana pengetatan kebijakan moneter dan reformasi fiskal di AS serta tekanan geopolitik di Eropa dan semenanjung Korea. Selain itu, BI juga mempertimbangkan risiko dari domestik antara lain masih berlanjutnya konsolidasi sektor korporasi dan perbankan. Bank Indonesia akan terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memperkuat bauran kebijakan dalam rangka menjaga stabilitas makroekonomi, stabilitas sistem keuangan dan memperkokoh fundamental ekonomi Indonesia.

BI mengamati, perbaikan ekonomi dunia terus berlanjut dengan kecenderungan lebih tinggi terutama didorong oleh perbaikan pertumbuhan ekonomi Eropa dan Cina. Di Eropa, pertumbuhan ekonomi diperkirakan lebih tinggi seiring perbaikan kinerja ekspor, peningkatan investasi, serta perkembangan sektor keuangan yang semakin kondusif. Sementara itu, perekonomian Tiongkok diperkirakan lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya. Hal itu sejalan dengan peningkatan kinerja perdagangan internasional dan kegiatan konsumsi swasta yang tetap kuat.

Dody mengatakan, perekonomian AS diperkirakan tetap tumbuh sesuai proyeksi didukung oleh aktivitas konsumsi dan produksi yang solid. Perekonomian India juga diperkirakan tumbuh sesuai revisi proyeksi ke bawah akibat dampak negatif demonetisasi dan penerapan pajak GST. "Sejalan dengan prospek perekonomian global yang membaik, volume perdagangan dunia dan pertumbuhan harga komoditas non-migas diperkirakan lebih tinggi dari asumsi semula," kata Dody.

Meski begitu, kata Dody, sejumlah risiko global tetap perlu diwaspadai. Hal itu antara lain adalah kenaikan Federal Fund Rate (FFR) pada Desember 2017, dampak normalisasi neraca bank sentral AS yang mulai dilaksanakan pada akhir Oktober 2017, serta transisi kepemimpinan bank sentral AS. Selain itu, terdapat risiko geopolitik yang berasal dari Spanyol dan proses transisi kepemimpinan di beberapa negara Eropa. Di Asia, terdapat risiko geopolitik yang berasal dari semenanjung Korea.