Rabu , 30 June 2010, 21:58 WIB

Aksi Lepas Saham Unggulan & Saham Murah Picu Indeks BEI Menurun

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
ANTARA
Bursa Efek Indonesia
Bursa Efek Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia, Rabu (30/6) pada pembukaan pasar turun hingga di bawah 2.900 poin. Kondisi dipicu pelaku pasar yang aktif melepas saham unggulan dan murah, akibat melesunya pasar Wall Street dan Eropa.

Pelaku pasar aktif melepas sahamnya di pasar modal Indonesia, menyusul merosotnya bursa saham Amerika Serikat dan Eropa yang mengimbas bursa regional, demikian kata Analis PT Valbury Asia Sekurities, Krisna Dwi Setiawan di Jakarta, Rabu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah 14,270 poin ataui 0,50 persen menjadi 2.879,151 poin dan indek LQ-45 turun 3,550 poin atau 0,54 persen menjadi 559,572 poin.

Indeks BEI yang tertekan sejak dua hari lalu hingga menembus angka 2.900 poin, memberikan gambaran bahwa pasar saham global sedang dilanda kelesuan. "Situasi yang tak bergariah terjadi karena pasar khawatir dengan pertumbuhan ekonomi global yang masih belum memberikan kepastian," ucapnya.

Menurut dia, indeks BEI kemungkinan akan terus melemah, karena kondisi pasar yang negatif berlanjut. Namun penurunan indeks, kata dia, masih belum dapat dipastikan sampai di angka berapa.

Indeks BEI sampai pekan ini diperkirakan akan terus berada di bawah angka 2.900 poin, ucapnya. Saham-saham unggulan yang terkoreksi di pasar antara lain saham Indotambang Mega melemah Rp500 menjadi Rp37.550, saham Astra Agro Lestari turun Rp400 menjadi Rp19.600 per saham, dan saham United Tractor merosot Rp300 menjadi Rp18.500 serta saham Gudang Garam turun Rp150 mnjadi Rp34.500.

Sementara itu saham yang paling banyak terjual yakni saham industri nikel, Inco yang mengalami transaksi sebanyak 4,8 juta unit dengan nilai Rp9,11 miliar pada kurs akhir naik Rp70 menjadi Rp3.725 per saham. Ia mengatakan peluang indeks untuk naik masih besar, karena pelaku asing berminat menambah investasi di dalam negeri. "Namun saat ini mereka masih menunggu membaiknya bursa saham Indonesia," katanya.

Sumber : Ant