Ahad , 13 August 2017, 11:07 WIB

OJK: Pasar Modal Indonesia Berkembang Sangat Pesat

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nur Aini
Sigid Kurniawan/Antara
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK) Wimboh Santoso memberikan keterangan kepada wartawan hasil rapat perdana DK OJK periode 2017-2022 di Jakarta, Kamis (20/7).
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK) Wimboh Santoso memberikan keterangan kepada wartawan hasil rapat perdana DK OJK periode 2017-2022 di Jakarta, Kamis (20/7).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, pasar modal Indonesia kini telah berkembang sangat pesat. Bahkan sudah menjadi salah satu tujuan investasi menarik bagi para investor baik dari dalam maupun luar negeri.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyebutkan, kini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 5.766,13 per 11 Agustus 2017. Sebelumnya pada 1977, saat pasar modal baru diaktifkan kembali, IHSG berada di level 98,00.

"Itu meningkat 5.000 persen. Sementara, nilai kapitalisasi pasar yang pada 1977 baru mencapai Rp 2,73 miliar, per Agustus lalu sudah mencapai Rp 6.319,55 triliun atau meningkat 200 ribu persen," uja Wimboh dalam Peringatan 40 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia, di Jakarta, Ahad (13/8).

Ia mengungkapkan pasar modal Indonesia sekarang sudah berkembang menjadi salah satu sumber pendanaan jangka panjang bagi dunia usaha dan pemerintah. Berbagai program seperti pembangunan infrastruktur pun turut didorong menggunakan pendanaan dari pasar modal.

"Pemerintah sedang gencar melakukan pembangunan infrastruktur seperti pelabuhan, jalan tol, pembangkit listrik, jalur kereta api, bandara, dan lainnya yang tentu butuh dana tidak sedikit," tutur Wimboh. Menurutnya, mengandalkan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) saja tidak cukup. APBN yang tersedia dalam lima tahun diperkirakan hanya Rp 1.500 triliun. Sedangkan kebutuhan pembangunan diprediksi lebih dari Rp 5.000 triliun.

"Salah satu strategi yang saat ini dipilih melalui pemanfaatan berbagai instrumen pembiayaan di sektor pasar modal. Mulai dari instrumen konvensional seperti saham dan obligasi hingga instrumen investasi," ujarnya. Berbagai instrumen investasi di antaranya Dana Investasi Infrastruktur berbentuk KIK, Efek Beragun Aset (EBA), Reksa Dana Penyertaan Terbatas, Reksa Dana Target Waktu, serta lainnya.

Ia berharap, ke depan pasar modal Indonesia siap menghadapi persaingan dan tantangan global. "Tentunya dengan infrastruktur lebih mumpuni dan dukungan emiten, regulator, serta seluruh insan pasar modal. Saya yakin kita mampu melesat menjadi salah satu pasar modal terbaik di dunia," kata Wimboh.