Selasa , 11 July 2017, 08:50 WIB

BI: Defisit Transaksi Berjalan Meningkat pada Kuartal II

Red: Nidia Zuraya
Republika/Wihdan Hidayat
Defisit Neraca Transaksi Berjalan
Defisit Neraca Transaksi Berjalan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo memerkirakan defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2017 (April-Juni) akan mencapai dua persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).Jumlah itu meningkat sekitar 100 basis poin dari kuartal I 2017 (Januari-Maret) yang sebesar satu persen dari PDB atau sebesar 2,4 miliar dolar AS.

"Defisit di kuartal I 0,99 persen PDB, di kuartal dua kira-kira dua persen, namun sepanjang tahun akan di bawah 1,9 persen," ujar Agus di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta, Senin (10/7) malam.

Dibandingkan tahun ke tahun, jika perkiraan BI presisi maka defisit transaksi berjalan akan lebih baik, mengingat pada kuartal II 2016 tahun lalu, defisit melebar menjadi 4,8 miliar dolar AS atau 2,2 persen dari PDB.

Agus belum mengungkapkan penyebab melebarnya defisit transaksi berjalan pada paruh kedua tahun ini dibanding kuartal I 2017. Namun dia meyakini, pada kuartal III dan IV 2017, defisit transaksi berjalan akan mereda sehingga pada akhir tahun defisit akan mengendur menjadi 1,8-1,9 persen PDB atau masih di ksiaran 2016 yang sebesar 1,8 persen PDB atau 16,3 miliar dolar AS.

"Akhir tahun akan menurun di kisaran 1,8-1,9 persen PDB," ujar dia.

Di hadapan anggota Komisi XI DPR, Agus mengatakan pada kuartal I 2017, defisit transaksi berjalan banyak disebabkan oleh mengalirnya pendapatan primer ke luar negeri karena pembayaran bunga surat utang pemerintah dan juga pembayaran dividen. Pada kuartal I 2017, defisit neraca pendapatan primer sebesar 7,5 miliar dolar AS.





Sumber : Antara