Ahad , 09 July 2017, 22:58 WIB

Pemerintah Diingatkan Hati-Hati Tambah Utang Luar Negeri

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nur Aini
johndillon.ie
Utang/ilustrasi
Utang/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Jumlah utang pemerintah yang terus meningkat dalam 2,5 tahun terakhir dinilai masih dalam kondisi aman. Namun, pemerintah diminta berhati-hati untuk kembali menambah utang terutama dari luar negeri.

Total utang pemerintah Indonesia kini mencapai Rp 3.672 triliun. Hal ini karena selama 2,5 tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo, utang bertambah hingga Rp 1.067 triliun.

Meski begitu, Ekonom SKHA Institute for global Competitiveness Eric Sugandi menilai kondisi tersebut masih aman. "Masih dalam rasio aman kalau dibanding dengan GDP (Gross Domestic Product)/PDB nominal," ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (9/7).

Ia menyebutkan, per akhir kuartal pertama 2017, rasio Utang Luar Negeri (ULN) terhadap PDB berada di posisi 34,1 persen. Sedangkan rasio ULN jangka pendek terhadap cadangan devisa (cadev) masih di bawah 50 persen. Hanya saja, Eric mengimbau, pemerintah harus tetap berhati-hati dalam menambah ULN. "Jangan terlalu cepat menambahnya. Apalagi kalau utang ini berjangka waktu pendek," ujarnya.

Ia menambahkan, khusus untuk surat utang negara (SBN) yang dapat diperdagangkan, porsi kepemilikan asing sebesar 38 persen dari total juga harus diperhatikan. "Hal itu karena sebagian dari investasi asing di portofolio bisa saja keluar ketika ada goncangam eksternal atau domestik sehingga bisa tekan rupiah," kata Eric.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mengumumkan posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia menurun dari 124,95 miliar dolar AS pada Mei tahun ini menjadi 123,09 miliar dolar AS per akhir Juni 2017. Menurut BI, posisi cadev tersebut masih kuat untuk membiayai 8,5 sampai 8,9 bulan impor serta membayar utang luar negeri pemerintah.

Berita Terkait