Jumat , 21 April 2017, 04:17 WIB

BRI Salurkan KUR Rp 14 Triliun pada Kuartal Pertama 2017

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Budi Raharjo
Republika/ Yasin Habibi
Dirut BRI Suprajarto (ketiga kanan), didampingi Wadirut BRI Sunarso (ketiga kiri) berbincang dengan sejumlah jajaran direksi seusai pemaparan kinerja keuangan kuartal I tahun 2017 di Jakarta, Kamis (20/4).
Dirut BRI Suprajarto (ketiga kanan), didampingi Wadirut BRI Sunarso (ketiga kiri) berbincang dengan sejumlah jajaran direksi seusai pemaparan kinerja keuangan kuartal I tahun 2017 di Jakarta, Kamis (20/4).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Tahun ini PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) masih fokus pada penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pada kuartal pertama 2017, perseroan pun sudah menyalurkan KUR hingga Rp 14,11 triliun kepada lebih dari 763 ribu debitur baru.

Direktur utama BRI Suprajarto menjelaskan, dari jumlah itu, sebanyak 30 persen disalurkan ke sektor produktif. Sesuai target pemerintah, sampai akhir tahun perseroan menargetkan penyaluran KUR ke sektor produktif minimal mencapai 40 persen.

"Kami yakin bisa capai, tidak terlalu sulit bagi BRI yang memang bank UMKM bahkan bisa lebih. Teman-teman di wilayah cabang sudah buat pipeline ke arah sana," jelasnya, kepada wartawan di Jakarta, Kamis, (20/4).

Dirinya menyebutkan, kemungkinan KUR akan disalurkan ke plasma sawit, karet, dan lainnya. Hal itu termasuk ke sektor pertanian secara lebih luas seperti tebu, dan lainnya, karena dianggap lebih prudent.

"Kami pilih salurkan ke yang eligible seperti pertanian biar lebih prudent. Kami optimis bisa capai target KUR ke sektor produktif 40 persen, tapi bukan sekadar produktif," ujar Suprajarto.

Direktur Komersial BRI Donsuwan Simatupang menambahkan, BRI memang selalu fokus dan mengutamakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Pada kuartal pertama tahun ini pun kredit mikro tumbuh 23 persen, sedangkan kredit komersil dan korporasi masing-masing 12 persen.

Ia mengungkapkan penyaluran kredit korporasi yang paling berkontribusi terhadap pertumbuhan adalah sektor energi. Kontribusinya terhadap rasio kredit bermasalah (NPL) sektor energi pun secara persentase terjadi penurunan dari sebelumnya 5,6 persen menjadi 3,6 persen.

"Hal itu karena kami concern ke pertumbuhan mikro retail. Jadi ketika likuiditas ketat kami lakukan prioritisasi," tutur Donsuwan.