Jumat , 13 Januari 2017, 15:52 WIB

Defisit Transaksi Berjalan Diperkirakan 1,8 Persen PDB

Red: Nidia Zuraya
Republika/Wihdan Hidayat
Defisit Neraca Transaksi Berjalan
Defisit Neraca Transaksi Berjalan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memerkirakan defisit transaksi berjalan sepanjang 2016 akan menyusut menjadi 1,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dibanding 2015 yang sebesar 2,06 persen dari PDB. Menurut Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo faktor utama penurunan defisit transaksi berjalan adalah neraca perdagangan yang terus mencatat surplus.

Data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan Indonesia mencetak surplus 840 juta dolar AS pada November 2016, meskipun surplus tersebut menurun dibanding Oktober 2016 yang sebesar 1,21 miliar miliar dolar AS.

"Maka itu pada kuartal IV 2016 kami perkirakan defisit neraca transaksi berjalan akan sebesar 1,9 persen PDB," kata Perry di Kantor Pusat BI, Jakarta, Jumat (13/1).

Neraca transaksi berjalan merupakan indikator ekspor-impor barang dan juga jasa dari Indonesia ke negara lain. Neraca transaksi berjalan dibagi dua komponen yakni neraca perdagangan untuk barang dan juga neraca jasa.

Jika nilai neraca transaksi berjalan defisit atau minus berarti negara tersebut masih mengimpor lebih banyak barang dan jasa daripada mengekspor. Namun, jika defisitnya mengecil berarti menunjukkan perbaikan dalam aktivtas ekspor-impor barang dan jasa.

BI sebelumnya memerkirakan defisit transaksi berjalan akan berkisar di dua persen terhadap PDB. Namun, perkembangan ekspor impor barang dan jasa di akhir tahun, kata Perry, akan semakin memperkecil defisit.

Di sisi lain, perbaikan defisit neraca transaksi berjalan juga akan memperbaiki neraca pembayaran Indonesia (NPI). NPI terdiri dari neraca transaksi berjalan, neraca modal dan finansial serta cadangan devisa.

"Cadangan devisa akhir Desember 2016 naik menjadi 116 miliar dolar AS. Bisa dibilang NPI akan positif (surplus), ditambah modal asing yang masuk juga banyak," kata dia.

Pada awal Desember 2016 lalu, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung memerkirakan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) bisa mencetak surplus mendekati 15 miliar dolar AS pada 2016.

Sumber : Antara