Kamis , 12 Januari 2017, 03:04 WIB

Laju Pasar Obligasi Diperkirakan Menguat

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Budi Raharjo
Republika/Prayogi
 Petugas bank melayani nasabah calon pembeli Obligasi Ritel Indonesia (ORI) 011 di Bank BRI Pusat, Jakarta,?Rabu (1/10).(Republika/Prayogi)
Petugas bank melayani nasabah calon pembeli Obligasi Ritel Indonesia (ORI) 011 di Bank BRI Pusat, Jakarta,?Rabu (1/10).(Republika/Prayogi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pergerakan laju obligasi pada hari ini diperkirakan akan cenderung bervariatif. Bahkan, cenderung untuk kembali menguat dengan harapan pergerakan rupiah dapat kembali melanjutkan penguatannya.

Analis Senior Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada menilai, laju yield dapat kembali turun dengan memanfaatkan sentimen melemahnya harga obligasi AS yang sedikit tertahan dengan sikap wait and see pelaku pasar jelang pidato Trump.

"Diharapkan jikapun terjadi pelemahan dapat lebih terbatas untuk menjaga tren pergerakan harga obligasi untuk tidak melemah lebih dalam," ujar Reza, Rabu (11/1).

Reza menuturkan, laju pasar obligasi mampu mengalami kenaikan seiring menguatnya laju Rupiah. Meski demikian, kenaikan yang terjadi masih cenderung tipis. "Pelaku pasar memanfaatkan kenaikan sebelumnya untuk kembali masuk," kata Reza.

Di sisi lain, lelang sukuk yang pertama kali di tahun ini juga diminati cukup besar. Pada pergerakan SUN, terlihat yield bertenor pendek kembali menguat bersamaan dengan tenor menengah dan panjang yang berhimpitan dengan laju yield di hari sebelumnya.

Pergerakan yield untuk masing-masing tenor ialah untuk tenor pendek (1-4 tahun) rata-rata mengalami penurunan yield -1,49 bps; tenormenengah (5-7 tahun) naik 1,85 bps; dan panjang (8-30 tahun) naik 1,67 bps.

Mulai adanya aksi beli membuat pergerakan harga SUN kembali menguat meski terbatas. Tak terkecuali pada seri obligasi benchmark. Pada FR0053 yang memiliki waktu jatuh tempo ±6 tahun dengan harga 98,70 persen memiliki yield 7,30 persen atau turun -4,2 bps dari sehari sebelumnya di harga 98,52 persen memiliki yield 7,34 persen.

Untuk FR0072 yang memiliki waktu jatuh tempo ±20 tahun dengan harga 101,95 persen dan yield 8,05 persen atau turun 0,64 bps dari sehari sebelumnya di harga 101,89 persen dan yield 8,05 persen.

Pada Selasa (10/1), rata-rata harga obligasi Pemerintah yang tercermin pada INDOBeX Government Clean Price naik 0,02 bps di level 111,12 dari sebelumnya di level 111,09. Sementara itu, rata-rata harga obligasi korporasi yang tercermin pada INDOBeX Corporate Clean Price turun -0,03 bps di level 106,31 dari sebelumnya di level 106,34.

Sementara pada laju yield obligasi korporasi, pergerakannya tidak jauh berbeda dengan sebelumnya di mana masih variatif dengan obligasi ber-rating tinggi cenderung melemah namun, rating yang lebih rendah cenderung bertahan. Pada obligasi korporasi dengan rating AAA dimana yield untuk tenor 9-10 di kisaran level 9,85-9,87 persen.

Sementara pada obligasi korporasi dengan rating AA untuk tenor 9-10 tahun, yield-nya di kisaran level 10,00 -10,05 persen. Untuk yield pada rating A dengan tenor 9-10 tahun di kisaran 11,06-11,08 persen dan pada rating BBB di kisaran 13,97-14,00 persen.

Pada lelang surat berharga syariah negara (SBSN) atau sukuk negara membukukan penawaran sebesar Rp 24 triliun. Penawaran yang masuk hampir empat kali lipat dari target indikatif senilai Rp 6 triliun. Dari total penawaran yang masuk, jumlah yang diserap sebesar Rp 6,57 triliun.

Laju yield yang ditawarkan investor cukup rendah sehingga pemerintah bisa menyerap dana melebihi target indikatif. Dari lima seri yang ditawarkan, empat seri mencatatkan yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan lebih rendah daripada yield wajar yang ditetapkan IBPA.

Keempat seri tersebut adalah SPNS110720017, PBS013, PBS014, dan PBS012 dengan yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan berturut-turut sebesar 5,86 persen, 7,15 persen, 7,63 persen, dan 8,36 persen. Sementara, seri PBS011 mencatatkan yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan sebesar 7,97 persen.

Pada lelang kali ini, seri yang paling diminati adalah SPNS110720017 bertenor enam bulan yang mencatatkan penawaran sampai Rp 17,89 triliun. Penawaran yang dimenangkan pada seri ini sendiri mencapai Rp 2 triliun. Kemudian, ada seri PBS013 yang akan jatuh tempo pada 15 Mei 2019 dengan penawaran yang masuk sebesar Rp 3,49 triliun dan nominal yang dimenangkan sebesar Rp 2,19 triliun.

Lalu, ada seri PBS011 yang akan kedaluwarsa tanggal 15 Agustus 2023 dengan penawaran sebesar Rp 980 miliar dan dimenangkan senilai Rp 790 miliar. Selanjutnya, ada seri PBS012 yang akan jatuh tempo pada 15 November 2031 dengan total penawaran sebesar Rp 900 miliar dan mampu diserap sebesar Rp 860 miliar. Terakhir, seri PBS014 yang akan jatuh tempo pada 15 Mei 2021 membukukan penawaran sebesar Rp 760 miliar dan nominal yang dimenangkan sebesar Rp 730 miliar.