Kamis , 30 June 2016, 18:10 WIB

Sektor UMKM Indonesia Harus Genjot Ekspor ke Eropa

Rep: Qommarria Rostanti/ Red: Esthi Maharani
Ap Photo
Brexit
Brexit

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Indonesia diharapkan dapat memanfaatkan momentum Brexit dengan cara menggenjot ekspor ke Eropa. Momentum ini perlu dimaksimalkan karena selama ini perdagangan bilateral Indonesia dengan Uni Eropa memberikan hasil positif.

''Dalam kaitannya dengan Indonesia, di tengah fakta ekspor nonmigas Indonesia ke Inggris tahun 2015 yang menurun dibanding 2014, rasanya menjadi logis jika semestinya ada upaya untuk meningkatkan ekspor,'' kata pemerhati ekonomi dari Indosterling Capital William Henley di Jakarta, Kamis (30/6).  

William mengatakan Indonesia dan Uni Eropa selama ini memiliki hubungan yang substansial. Menurut Eurostat, kata dia, perdagangan barang bilateral mencapai 20 miliar euro pada 2010 yang menghasilkan surplus untuk Indonesia sebesar 7 miliar euro.

Masih merujuk data yang sama, William melihat Uni Eropa merupakan tujuan ekspor terbesar kedua bagi Indonesia setelah Jepang dengan pangsa pasar sebesar 11,2 persen serta menjadi sumber impor terbesar keempat (7,5 persen). Sebaliknya bagi UE, Indonesia merupakan sumber impor terbesar ke-19 (pangsa sebesar 1 persen) dan tujuan ekspor terbesar ke-35 (pangsa sebesar 0,5 persen).

''Di antara sektor-sektor ekspor utama Indonesia ke Uni Eropa adalah minyak sawit, serta produk kayu dan kertas, selain pariwisata dan lainnya,'' kata dia.

Namun demikian William tetap menyadari kenyataan adanya kemungkinan turbulensi ekonomi pascaBrexit di Uni Eropa. Hal tersebu bukan mustahil membuat ekspor Indonesia, termasuk ekspor produk UMKM akan mengalami 'pengereman'. ''Skenario terburuknya, paling tidak hal itu dapat berlangsung selama 2 tahun proses resmi Inggris keluar dari Uni Eropa,'' ujarnya.