Kamis , 30 May 2013, 10:17 WIB

Kelas Menengah Meningkat, Zakat Belum Optimal

Rep: Amri Amrullah/ Red: A.Syalaby Ichsan
wordpress.com
Zakat (ilustrasi).
Zakat (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cenderung stabil telah  menambah jumlah kelas menengah yang cukup besar.

Mayoritas kelas menengah yang cukup besar itu tumbuh dari ekonomi pekerja atau karyawan perusahaan. Namun, besarnya potensi ekonomi karyawan  belum sebanding dengan capaian zakat yang dikeluarkan oleh karyawan.

Direktur Pemberdayaan Zakat Kementerian Agama (Kemenag) RI Hamka, dalam  Seminar zakat,  Produktifitas Perusahaan Melalui Karyawan Religius, menjelaskan, potensi zakat penghasilan di Indonesia cukup besar.

Potensi yang besar itu sebagian besar bersumber dari zakat karyawan yang saat ini capaian perolehannya masih belum optimal.

Hamka menjelaskan, peningkatan upah minimum regional (UMR), memungkinkan adanya kenaikan kelas menengah karyawan. "Banyak karyawan yang sebelumnya masuk dalam mustahik, kini mereka naik kelas menjadi muzakki," ujar Hamka kepada Republika, Kamis (30/5). 

Beberapa unit pengumpul zakat (UPZ) perusahaan pun sudah berupaya mengumpulkan perolehan zakat penghasilan karyawan ini. Tapi permasalahannya, jelas dia, karyawan muzakki (orang yang berhak membayar zakat) ini belum memiliki pemahaman dan kesadaran pentingnya membayar zakat.

Karena itu perlu mereka perlu mendapatkan pemahaman yang benar akan pentingnya membayar zakat. Deputi Direktur Zakat Dompet Dhuafa Ahmad Shonhaji menyadari masih lemahnya pengumpulan zakat penghasilan karyawan di perusahaan-perusahaan.

Hal ini dikarenakan banyak manajemen perusahaan yang belum memberikan kewajiban zakat terhadap karyawannya.