Kamis , 26 Mei 2016, 16:27 WIB

Arsitektur Rumah Perlu Perhatikan Musim Lho

Red: Dwi Murdaningsih
Rumahku.com
Membangun rumah perlu mempertimbangkan musim yang ada.
Membangun rumah perlu mempertimbangkan musim yang ada.

REPUBLIKA.CO.ID, Tahukah Anda jika pembuatan suatu bangunan berkaitan erat dengan iklim dan musim? Menurut penjelasan ala bidang arsitektur, antara rumah, iklim dan musim, ketiganya merupakan hal yang saling berkaitan. Itulah mengapa gaya arsitektur di setiap negara akan berbeda. Negara yang berbeda iklim dan musim, tentu akan berbeda pula model bangunannya.

Misalnya saja penerapan arsitektur di negara tropis dan sub tropis. Negara tropis memiliki dua musim dan secara geografis terletak di sekitar ekuator. Negara ini kerap digambarkan sebagai lokasi yang hangat dan lembab sepanjang tahun, seperti Indonesia. Sedagkan negara sub tropis memiliki empat musim dan berada di utara atau selatan wilayah tropis. Contohnya Australia, Eropa, Amerika Serikat, dan sebagainya.

Lalu, seperti apa perbedaan arsitektur di negara tropis dan sub tropis tersebut? Berikut penjelasannya menurut Rumahku.com:

Arsitektur Tropis
Untuk bangunan di daerah tropis, konstruksinya cenderung sederhana dan biasanya lebih banyak menggunakan bahan alami yang ringan. Tapi kualitas tetap terjamin, aman, kuat dan fungsional. Kondisi ini membuat arsitektur tropis dapat memanfaatkan teknologi dan alternatif bahan yang lebih banyak. Lokasi ini dianggap paling tepat jika ingin menerapkan konsep green building.

Arsitektur tropis atapnya ditopang oleh satu tiang atau beberapa tiang. Atap dijadikan sarang bernaung atau berlindung dari matahari dan hujan. Tapi, tetap mengupayakan masuknya cahaya matahari dan aliran udara segar ke dalam rumah. Ini adalah cara mengurangi kelembaban dan bangunan jadi terasa sejuk.

Posisi atap terhadap dinding masih menyisakan celah dan lebeihan lebar atap yang kerap disebut overstek, overhang, atau teritisan. Perannya sangat penting, seperti melindungi sebagian dinding bangunan atau melindungi bukaan dinding yang berupa jendela atau lubang angin. Teritisan juga bisa mengurangi terpaan cahaya matahari dan kucuran hujan.

Arsitektur Subtropis
Pada negara dengan 4 musim ini, arsitekturnya didominasi unsur atap dan dinding yan tertutup. Desain ini mempertimbangkan musim dingin yang ekstrem. Misalnya salju yang turun di atap beberapa jam saja bisa jadi tumpukan es yang berat. Untuk itulah atap bangunan di negara tropis didesain curam. Konstruksinya dibuat lebih kuat dan mengurangi teritisan, agar salju jatuh ke tanah.

Begitu juga dengan dinding bangunan yang dibuat tebal serta masif. Kontruksi tepat untuk terlindungi dari cuaca dingin. Ketebalan dinding bisa memperlambat udara dingin masuk ke dalam bangunan. Celah dinding juga dibuat rapat dan kokoh.

Desain bangunan semacam ini memerlukan banyak sekali energi. Misalnya untuk pemanasan ruang dari musim dingin, musim gugur, atau musim semi, dan pendingin ruangan saat musim panas. Begitu juga dengan energi penerangan buatan, karena cahaya matahari yang masuk relatif sedikit.