Jumat , 01 December 2017, 09:46 WIB

Hanya Sisir Nasabah Perempuan, Ini Alasan Fintech Amartha

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Elba Damhuri
amartha
Amartha mengadakan acara bulanan-Amartha Morning Coffee Session di kantor pusat Amartha-Jakarta Selatan, akhir pekan kemarin.
Amartha mengadakan acara bulanan-Amartha Morning Coffee Session di kantor pusat Amartha-Jakarta Selatan, akhir pekan kemarin.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pesatnya perkembangan teknologi membuat penyedia layanan keuangan berbasi teknologi atau financial technology (fintech) semakin banyak bermunculan. Mulai dari fintech peer to peer (P2P) lending (peminjaman), payment (pembayaran), crowdfunding (pembiayaan), dan lainnya.

Salah satu pelaku fintech P2P Lending Amartha pun turut hadir menawarkan solusi pinjaman bagi masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan (unbanked). Hanya saja, agak berbeda dari lainnya, Amartha hanya menyalurkan pembiayaan kepada perempuan khususnya para ibu.

"Banyak banget yang nanya ke Amartha, kenapa layanannya cuma untuk perempuan padahal cowok juga punya willingness to pay. Maka berdasarkan riset, kalau kita minjemin ke cewek tingkat kredit macetnya lebih rendah dibanding laki-laki," jelas Vice President of Growth Amartha Fadilla Tourizqua Zain dalam diskusi di Kemang, Jakarta, Kamis, (30/11).

Hal itu, kata dia, terbukti dari tingkat kredit bermasalah atau Nonperforming Loan (NPL) Amartha yang nol persen sejak tujuh tahun berjalan. "Mereka (perempuan) punya tanggung jawab atau willing to pay, makanya kita pilih cewek," tambahnya.

Lebih lanjut, perempuan yang akrab disapa Ika ini bercerita, jika seorang ibu terberdaya, keluarganya akan ikut sejahtera. Bahkan beberapa juga memberi manfaat kepada tetangganya.

"Pada 2010 lalu, ada seorang ibu dari Ciseeng namanya Bu Fitri. Tadinya dia buruh jahit lalu dia pinjam uang ke Amartha sebesar Rp 500 ribu untuk beli satu mesin jahit dengan tujuan membuat sekolah jahit. Kini ia punya konveksi yang ekspornya sampai ke Somalia," tutur Ika.

Menurutnya, bila semua ibu bisa berhasil, angka kemiskinan pun bisa turun. Selain itu, gerakan memperluas akses keuangan kepada masyarakat (inklusi) semakin meningkat pula.

"Dengan teknologi, prosesnya juga semakin cepat. Kalau dulu 2010, butuh waktu dua minggu sampai uangnya diterima nasabah. Kini hanya butuh waktu satu jam untuk mendapat assesment," kata Ika.

Sebagai informasi, nasabah bisa mengajukan pinjaman awal ke Amartha minimal sebesar Rp 3 juta. Sebelum pinjaman diberikan, petugas lapangan Amartha akan melakukan survei dahulu meliputi survei kondisi rumah, kondisi usaha, serta surat izin dari suami.

"Petugas lapangan Amartha melakukan pendampingan keuangan dan bisnis berbasis kelompok pada mitra Amartha. Semangat gotong royong dan bantu-membantu juga diterapkan saat ada satu anggota kelompok yang mengalami kesulitan," jelas Ika.

Amartha melakukan pendekatan berbasis kearifan lokal. Tujuannya untuk mendorong usaha pedesaan tumbuh maju melalui penyaluran modal kerja yang terjangkau.

Saat ini per November 2017, sudah lebih dari 65 ribu nasabah Amartha yang menerima pinjaman. Dengan total pembiayaan sekitar Rp 197 miliar.