Jumat , 01 Desember 2017, 03:53 WIB

Australia dan Indonesia Kerja Sama Fintech

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Nidia Zuraya
Republika/Mardiah
Ilustrasi Fintech ( Financial Technology)
Ilustrasi Fintech ( Financial Technology)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komunitas financial technology (fintech) atau teknologi finansial (tekfin) Australia dan Indonesia mengadakan pertemuan di Sydney dan Melbourne. Pertemuan tersebut diadakan untuk membahas topik terkini terkait inklusi keuangan dan upaya pertumbuhan industri tekfin yang lebih kuat.

Perwakilan dari Indonesia terdiri dari regulator keuangan dan 16 perusahaan. Selain itu juga hadir pejabat senior dari Otoritas Jasa Keungan dan Bank Indonesia.

"Australia dan Indonesia memiliki ekosistem tekfin yang aktif dan dapat saling menguntungkan, kini kami mulai membangun hubungan diantara keduanya," ujar CEO FinTech Australia Danielle Szetho, dalam siaran pers yang diterima Republika, Kamis(30/11).

Indonesia saat ini adalah negara dengan pusat tekfin dan usaha rintisan ke-2 terbesar di Asia Tenggara. Hal ini ditandai dengan 53 proyek investasi senilai 3 miliar dolar AS. Disamping itu, Australia juga memiliki industri tekfin yang sangat aktif dengan pertumbuhan jumlah perusahaan sebanyak sekitar 500 perusahaan sejak 2014.

"Kedua negara dapat membawa pulang pelajaran dari pertemuan ini apalagi industri tekfin di Indonesia masih melihat kesempatan besar dalam mendukung pertumbuhan transaksi online yang saat ini diprediksikan mencapai 130 miliar dolar AS dan untuk melayani sektor UMKM yang saat ini baru 9 persen atau sekitar 4,6 juta yang online," kata DirekturEksekutif untuk Kebijakan Publik Asosiasi FinTech Indonesia, Ajisatria Suleiman.