Selasa , 28 November 2017, 08:50 WIB

Transportasi Publik Kota Semarang Dilirik Pelaku Fintech

Rep: s bowo pribadi/ Red: Budi Raharjo
Republika/Mardiah
Ilustrasi Fintech ( Financial Technology)
Ilustrasi Fintech ( Financial Technology)

REPUBLIKA.CO.ID,SEMARANG -- Pesatnya perkembangan Kota Semarang mulai dilirik oleh industri fintech. PayPro salah satu aplikasi fintech tertarik untuk mengembangkan kemudahan pembayaran transportasi publik di Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah ini.

Chief Marketing Officer PayPro Indonesia, Adelheid Helena Bokau mengatakan, di Ibu Kota Negara, Jakarta, PayPro telah mengembangkan fitur untuk pembayaran sarana transportasi seperti Bajaj serta Kereta Commuter Line (KCL). Kota Semarang sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Tengahdinilai cukup potensial, mengingat transportasi publik kian diminati masyarakat seiring dengan bertambahnya volume kendaraan bermotor di ruas jalan protokol.

"Di Semarang ini, animo masyarakat untuk menggunakan sarana transportasi publik kami lihat cukup tinggi, karena Kota Semarang termasuk kota besar yang terus bebenah dan berkembang," ungkapnya, di Semarang, Selasa (28/11).

Apalagi, jelasnya, Kota Semarang juga telah menerapkan koneksitas sistem transportasi publik yang terintegrasi guna memudahkan mobilisasi warganya. Baik dari terminal ke stasiun, terminal ke bandara hingga koneksitas antar kampus perguruan tinggi.

Alasan lain untuk untuk melirik sektor transportasi publik, tak lain untuk mendukung gerakan non tunai. Karena aplikasi fintech ini memungkinkan warga Kota semarang dapat melakukan transaksi transportasi publik lebih simpel dan mudah.

Nantinya, para pengguna transportasi publik ini bisa melaukan transaksi pembayaran angkutan umum cukup melalui telepon pintarnya dengan memanfaatkan teknologi QR Code. Di luar kemudahan transaksi transportasi publik ini, PayPro juga menyediakan fitur- fitur pembayaran lainnya yang menawarkan berbagai kemudahan dan keunggulan.

"Seperti membeli pulsa, membeli token listrik, membayar berbagai tagihan, pembayaran BPJS, danareksa, pembayaran di toko-toko modern dan juga dapat berinvestasi maupun untuk tarik tunai," kata Helena.

Untuk itu, lanjutnya, edukasi tentang transaksi non tunai mulai dilakukan PayPro kepada warga kota Semarang. Salah satunya telah dilakukan ke kampus Undip, Tembalang. Karena mahasiswa menjadi salah satu konsumen transportasi publik besar di Semarang.

Rencananya, edukasi yang sama juga akan dilakukan dengan menyasar komunitas warga lainnya. Karena jenis transportasi publik yang ada di kota Semarang ini cukup beragam. Ada angkutan kota (angkot), shuttle bus, ojek dan lainnya.

Baginya sangat penting mengedukasi masyarakat untuk lebih familier dengan transaksi non tunai. Sebab salah satu tantangan untuk memperluas selling point PayPro ini adalah merubah mindset serta kebiasaan masyarakat untuk meninggalkan ransaksi tunai.

"Kalau kebiasaan masyarakat tidak dirubah, semenarik apapun produk maupun fitur yang kita tawarkan, bakal tidak ada artinya dan orang tidak akan peduli dengan produk tersebut," ungkap Helena didampingi Manager of Public Relation PayPro, Andy Muhammad Saladin.

Berita Terkait