Sabtu , 30 September 2017, 17:00 WIB

Fintech Syariah Bisa Bantu Pertanian

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Dwi Murdaningsih
Novrian Arbi/Antara
Petani berjalan di pematang yang telah dipatok untuk lahan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung di daerah Tegalluar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, kamis (28/9).  Kawasan Tegalluar direncanakan menjadi kawasan pemberhentian terakhir proyek PT. Kereta Cepat Indonesia-China yang pembebasan lahannya telah mencapai 54,5 persen dan ditargetkan selesai 100 persen dalam tiga bulan mendatang.
Petani berjalan di pematang yang telah dipatok untuk lahan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung di daerah Tegalluar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, kamis (28/9). Kawasan Tegalluar direncanakan menjadi kawasan pemberhentian terakhir proyek PT. Kereta Cepat Indonesia-China yang pembebasan lahannya telah mencapai 54,5 persen dan ditargetkan selesai 100 persen dalam tiga bulan mendatang.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Pertanian dinilai jadi sektor berisiko bagi lembaga jasa keuangan formal. Layanan keuangan berbasis teknologi (fintech) syariah bisa masuk ke sektor itu dan membantu petani.

Chairman of Indonesia Startup Center, Muhaimin Iqbal menjelaskan, ekonomi syariah sangat luas tidak hanya keuangan saja. Industri keuangan syariah terjebak di lima persen karena belum melihat potensi yang lebih luas.

Alquran sudah menyebutkan, Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Allah juga menyatakan akan menghancurkan riba dan menyuburkan sedekah. Kalau riba di tengah dan jual beli di kanan kirinya, yang kanan kiri akan mengecil bila yang tengah diperbesar.

Jual beli sudah tumbuh, sedekah belum. Dari komposisi, 44,4 persen aset ekonomi syariah di keuangan, 36 persen di sektor riil halal, dan sisanya di gaya hidup. Sebanyak 44,4 persen itu pun belum menyentuh ekonomi sedekah, wakaf.

Indonesia Start-up Center melahirkan platform fintech pertamanya, I-Grow. Empat bulan lahir, I-Grow mendapat anugerah usaha rintisan (startup) regional terbaik Asia dan 2017 ini mendapatkan juara bidang pertanian versi PBB. Pada 2018, I-Grow akan mewakili Indonesia dalam World Startup Competition di Silicon Valley.

"Pertanian Indonesia itu punya tiga masalah internal dan tiga masalah eksternal. Masalah internal pertanian adalah akses pasar, kemampuan dimana kemampuan bertani para petani sejak dulu relatif masih sama, dan modal. I-Grow 1.0," kata Iqbal, mengatasi masalah internal ini.

I-Grow lanjutannya, I-Grow 2.0, akan mengatasi masalah eksternal pertanian yaitu rentenir, ijon, tengkulak. ''Islam punya akad salaam yang bisa mengatasi tiga persoalan eksternal tersebut,'' kata Iqbal dalam serial seminar Islamic Fintech di Kompleks STEI Tazkia, Sentul, Kabupaten Bogor Jawa Barat, Sabtu (30/9).

I-Grow memiliki pengembangan fintech lainnya seperti Salaam. Indonesia Startup Center juga melahirkan Etherische dan Huurun. Hasil perkebunan aromatik ditangani Etherische. Sementara Huurun adalah untuk ibu-ibu yang ingin bisa meracik parfum dan menjualnya.

Iqbal mengatakan ia dan timnya masuk ke fintech tidak sengaja karena niatnya mengurus petani. Setelah dua tahun berjalan dan keluar aturan, pihaknya mendaftarkan I-Grow ke OJK.

Berita Terkait