Senin , 18 September 2017, 06:07 WIB

Cerita Pengusaha Tahu Bertahan Saat Harga Kedelai Melambung

Red: Dwi Murdaningsih
amartha
Ronih, pengusaha tahu mitra Amartha.
Ronih, pengusaha tahu mitra Amartha.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR --Butuh sebuah keberanian dan keyakinan untuk mulai melangkah meninggalkan dan zona nyaman. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan secara masak agar langkah yang kita ambil menjadi sebuah jawaban yang tepat dan keputusan yang baik dalam hidup kita. Inilah yang telah dilakukan oleh Ronih, salah satu pengusaha industri tahu rumahan di Desa Iwul, Kecamatan Ciseeng, Parung Bogor.

Ronih dan suami kini telah memiliki industri tahu yang telah membuat hidupnya menjadi lebih baik. Ia pun telah merenovasi rumahnya, membeli mobil bak untuk menjual tahu-tahunya dan telah membuka lapangan pekerjaan, dengan mempekerjakan 4 orang tetangganya. Mereka yang awalnya bekerja sebagai buruh di salah satu usaha rumahan, kemudian bernai mengambil risiko dengan memulai usaha tahu kecil-kecilan.
 
Dibantu oleh sang buah hati, setiap pagi buta pukul 3.00 WIB, ia memulai untuk membuat tahu olahannya. Mulai dari mencuci tahu, menggiling kedelai, hingga tahu siap untuk dijual. Keahlian membuat tahu Ronih dapatkan dari belajar dengan saudaranya yang juga membuka usaha tahu. Sang anak bertugas untuk menjual tahu-tahunya di pasar.
 
“Dulu ya masih kecil-kecilan neng, paling 10 kilo kedelai sehari. Cuma dibantu sama suami sama anak. Terus sekarang sehari ya bisa 50 sampai 80 kilo sehari. Pernah juga 100 kilo pas dulu bulan puasa," ungkap Ronih menceritakan perjalanan usahanya.
 
Usaha Ronih tidak selalu mulus. Dia pernah menghadapi cobaan saat harga kedelai melambung tinggi kala itu. Bahkan Ronih terancam gulung tikar karena bahan baku yang mahal. Sebab, bahan baku berimbas pada biaya produksi yang membengkak dan ia tak punya cukup dana untuk memenuhi permintaan pasar karena bahan baku yang mahal. Ia pun tidak dapat begitu saja menaikkan harga tahu.
 
Tapi cobaan itu ternyata dapat ia lewati. Hal ini karena, Ronih mendapatkan bantuan modal dari Amartha sebesar Rp 1 juta di tahun 2014. Modal tersebut sangat membantunya untuk membeli kedelai sebagai bahan untuk membuat tahu. Dengan bantuan ini, Ronih mampu bertahan dalam himpitan ekonomi yang sulit dan mempertahankan usahanya. Usahanya selamat.
 
Setelah harga kedelai stabil, ia terus mengembangkan dan meningkatkan produksi tahunya untuk memenuhi kebutuhan pasar yang semakin banyak. Amartha pun terus memberikan support dengan mengucurkan modal usaha selanjutnya untuk mendorong usaha Ronih agar semakin maju.
 
Bahkan sang suami juga sukses menjadi seorang peternak sapi. Ia memiliki 5 ekor sapi besar dan juga satu kolam lele. Ini adalah sumber pendapatan lain selain dari industri tahu miliknya. “Senang sekali, gabung Amartha sudah membuat saya makin sejahtera, bisa ajak tetangga ikut saya, jadi mereka yang tadinya cuma di rumah aja, sekarang bisa dapet penghasilan. Saya juga bisa hidup lebih baik," kata Ronih.