Kamis , 07 September 2017, 18:34 WIB

Selamat Datang ‘Fintech’ Agro

Red: Karta Raharja Ucu
Republika/Yogi Ardhi
Zaim Uchrowi
Zaim Uchrowi

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Zaim Uchrowi*

Hingga beberapa tahun lalu, pertanian masih terpotretkan sederhana. Pertanian terbayangkan sebagai kegiatan bercocok tanam. Juga beternak hewan atau memelihara ikan. Seolah pertanian bukan bagian dari kegiatan ekonomi moderen. Sama sekali tidak dianggap canggih, tak seperti sektor finansial maupun teknologi informasi.

Sebutan agribisnis atau agrobisnis sedikit banyak mengangkat pamor pertanian. Sebutan yang mengingatkan bahwa pertanian tidak berposisi di garis belakang, melainkan sejajar dengan bidang lain perekonomian. Kehadiran portal Agronet pada 2017 ini juga untuk menguatkan langkah maju pertanian. Yakni dengan menjadi jembatan komunikasi para pemangku kepentingan agribisnis.

Kini, setelah portal Agronet ini meluncur, satu persatu potensi agribisnis pun tersingkap. Singkapan yang dapat membalik 180 derajat paradigma soal pertanian. Membalik pandangan bahwa pertanian selalu di garis belakang perekonomian kita. Perspektif baru agribisnis mulai mengemuka. Membuka mata semua bahwa agribisnis juga bagian depan perekonomian. Bahkan termasuk yang terdepan.

Fenomena ’fintech’ agrobisnis sangat menggambarkan hal itu. Fenomena yang kini mulai marak di dunia. Juga di Indonesia. Lihat saja iGrow (igrow.asia), Tanifund (tanifund.com), atau Crowde (crowde.co). Mereka menjadi wajah baru pertanian Indonesia. Wajah yang sama sekali tidak tumbuh dari masyarakat petani, melainkan dari masyarakat teknologi informasi yang mencantol ke ranah finansial.

Di dunia, ’fintech’ baru berkembang kurang dari 10 tahun terakhir. Semua sepakat istilah itu disebut berasal dari kata ’financial’ dan ’technology’. Istilah yang kemudian dimaknai sebagai inovasi bisnis keuangan berbasiskan teknologi informasi yang memudahkan proses pembayaran, transfer, hingga kegiatan pinjam-meminjam. PayTren, misalnya, adalah salah satu ’fintech’ yang populer di Tanah Air.

Dari waktu ke waktu, cakupan ’fintech’ makin melebar. Para pelaku bisnis keuangan berbasis teknologi informasi ini terus bergerak mencari obyek garapan. Maka, cepat atau lambat mereka akan sampai pula pada agrobisnis sebagai ladang garapannya. Salah satu alasannya adalah ruang pengembangan dunia agrobisnis yang masih sangat lebar.

Para pelaku bisnis ’fintech’ agro mengisi sebuah peluang. Yakni peluang untuk menjadi jembatan investasi antara investor di satu sisi dengan petani di sisi lain. Para investor terus mencari saluran investasi yang aman dan menguntungkan. ’Fintech’ agro tentu harus siap memenuhi harapan tersebut.

Selain menjanjikan tingkat keuntungan kompetitif dibanding investasi lain, pebisnis ini harus pula meyakinkan bahwa investasi ’fintech’ agro memiliki banyak nilai lebih. Di antaranya adalah nilai lebih untuk ’membantu petani’ mendapatkan modal. Ada aspek sosial di dalam investasi ini. Begitu pula aspek ’pengalaman bertani’ yang dapat dirasakan investor. Tanpa harus ikut berlumur tanah dan lumpur secara langsung.

Di sisi lain, model bisnis ini juga menjadi alternatif yang menyenangkan bagi petani. Petani berkompetensi tinggi tak perlu repot mencari modal usaha yang memang sering sulit. Sebaliknya, lewat ’fintech’, modal yang akan mencari dan mendatangi mereka. Petani mitra ’fintech’ tak pula perlu sibuk mencari saluran pemasaran untuk hasil panennya. Para perusahaan ’fintech’ agro dapat memasarkan hasil lewat saluran masing-masing.

Masing-masing perusahaan ’fintech’ punya cara sendiri untuk menarik investor. ’Fintech‘ iGrow, misalnya, seperti mengajak investor untuk ikut ’merasakan’ menanam tanaman yang menjadi investasinya. Lewat landasan digitalnya, investor diajak untuk ’memilih benih’, mengikuti kegiatan menanam yang dilakukan petani mitranya, memonitor pertumbuhan tanaman, menyaksikan panen tanamannya, hingga pemasaran hasil panen itu. Semua itu dilakukan melalui akun personal.

Investor bebas memilih jenis tanaman yang disukainya. Berbagai komoditas ditawarkan, mulai dari bawang merah hingga mangga. Adapun paket investasi di atas sejuta rupiah, dengan beberapa jenjang berbeda sesuai jenis tanaman yang dipilih. Pada Agustus 2017, ’fintech’ ini mengklaim telah melibatkan sekitar 2.200 petani pilihan, yang mencakup lebih dari 1.000 hektar lahan.

’Fintech’ Crowde punya gimmick-nya sendiri. Informasi setiap proyek tanamannya diperjelas. Yakni tentang berapa nilai proyek tanamannya, di mana, hingga sudah berapa banyak investasi yang dimasukkan para investor. Bila iGrow menyebut bermitra dengan petani, Crowde lebih menekankan pada ’komunitas petani’ sebagai mitra.

Fintech ini juga menawarkan nilai investasi dari tingkat yang sangat rendah, yakni Rp 10 ribu, sesuai dengan misinya untuk melahirkan ’crowd’ atau kumpulan manusia untuk berinvestasi di pertanian. Menurut mereka, saat ini Crowde telah menggandeng 300 komunitas petani di berbagai daerah.

Pendekatan Tanifund lain pula. ’Fintech’ ini bukan menyebut berapa banyak petani atau komunitas petani yang mereka gandeng. Mereka lebih suka memuat testimoni dari petani mitra yang merasa diuntungkan dengan adanya ’fintech’ ini. Setidaknya untuk dapat memberikan kemudahan modal dalam berusaha tani.

Selain itu, Tanifund juga menawarkan ’sistem bagi hasil’ dari investasi tanaman itu. Dalam klaim mereka, hasil dari sistem tersebut ’bisa sampai 50 persen’ nilai keuntungan. Sebuah cara yang lebih mendekati ’sistem Islami’ dibanding dengan iGrow yang menawarkan sistem persentase keuntungan yang tetap.

Bagi dunia pertanian, kehadiran bisnis ’fintech’ agro ini menjadi alternatif tambahan dalam penyediaan modal buat petani. Lebih dari sekadar modal, ’fintech’ agro mau tidak mau juga memberikan pendampingan manajemen bagi petani maupun kelompok tani untuk dapat memberikan hasil produksi yang lebih baik. Membangun saluran pemasaran pun tak terhindarkan.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa pengelolaan ’fintech’ agro lebih rumit dibanding dengan ’fintech’ pada umumnya seperti untuk transfer, pinjam-meminjam, atau pengganti transaksi tunai. ’Fintech’ agro harus pula membina petani dan membangun pasar agribisnis. Dua hal yang jelas bukan kompetensi dasar para pelaku bisnis keuangan maupun pelaku bisnis teknologi informasi.

Trauma investor atas ’investasi bodong’ di agribisnis juga tantangan besar yang perlu ditaklukkan ’fintech’ agro. Beberapa kasus ’investasi bodong’ pertanian telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Di antaranya adalah investasi hortikultura di Sukabumi hingga ternak bebek di Cirebon. Para pebisnis ’fintech’ agro tentu telah mengantisipasi tantangan-tantangan itu.

Tak mudah bagi para pelaku ’fintech’ untuk masuk ke dunia agro. Namun mereka telah mengayunkan langkahnya bersama. Mereka percaya ’sharing economy’ itu baik sebagaimana diserukan para penganjurnya seperti Bung Hatta. Memang bukan koperasi yang mereka pakai, melainkan format baru yang akrab dengan generasi Y dan Z saat ini. ’Fintech’.

Maka, selamat datang para ’fintech’ agro. Selamat memberi cakrawala baru bagi pertanian. Masyarakat agribisnis, juga portal Agronet, telah membentangkan karpet merah untuk Anda.

 

*Founder Kultura Indonesia