Senin , 07 Agustus 2017, 08:00 WIB

Cerita Enoh Meraih Omzet Rp 9 Juta dari Berjualan Golok

Red: Dwi Murdaningsih
Wirausaha/ilustrasi
Wirausaha/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Mimpi untuk menjadi orang yang sukses dan bahkan dapat berpengaruh bagi lingkungannya, mungkin tak pernah terbesit sedikitpun di benak Enoh (40 tahun). Usaha kecil yang ia mulai di rumah, kini telah berhasil berkembang dan mampu memperoleh keuntungan yang menjanjikan.

Ibu dari 3 orang anak ini, tetap tekun dan giat dalam mengembangkan usaha membuat golok dan pisau miliknya. Dibantu oleh sang suami, ia telah berhasil menjadi pemasok tetap di beberapa pasar tradisional sekitar Parung, Bogor.

Memulai usaha dengan modal yang pas-pasan, tidak membuat Enoh gentar. Walaupun berbagai cobaan dan rintangan pernah ia hadapi dalam mengembangkan usahanya ini, tidak membuatnya mundur dan menyerah sama sekali.

“Dulu saya kan buruh yang ikut orang bikin pisau juga neng, jadi cuma modal pengalaman aja sama sedikit tabungan buat mulai usaha ini, dibantu sama bapak. Tabungan buat beli alat-alat sederhana kaya gergaji besi, ragum, kayu, pengelas, sama besi bahan buat bikin pisau. Dua tiga biji, dijual ke tetangga karena dulu kurang modal neng. Eh lama-lama sekarang udah bisa bikin 200 biji sehari karena saya dapat bantuan modal dari Amartha," ujar Enoh.

Modal memang menjadi rintangan tersendiri bagi Enoh dalam mengembangkan usahanya. Beruntung, di tahun 2015 yang lalu ia bertemu dengan Amartha, salah satu penyelenggara layanan Peer-to-Peer (P2P) Lending sebagai marketplace yang mempertemukan investor dengan  peluang investasi pada pembiayaan usaha mikro dan kecil (UMKM) di Indonesia.

Berkat usahanya yang tekun dan pantang menyerah, serta suntikan modal dari Amartha, ia berhasil mengembangkan bisnisnya menjadi makin besar secara perlahan. Saat inipun, ia mampu meraup omzet hingga Rp 9 juta dalam satu bulan dari berjualan pisau dan golok.

Sebelumnya, saat ia memulai usahanya di tahun 2011 lalu, pendapatannya hanya 500 Ribu sampai 800 Ribu Rupiah saja per bulannya. Untunglah pemasukan keluarga masih terbantu oleh sang suami yang saat itu masih bekerja serabutan menjadi tukang bangunan.

Ternyata kesuksesannya ini telah berdampak pula pada lingkungan sekitarnya. Dua tetangga Enoh yang dulunya menganggur, kini telah menjadi karyawannya dan membantu produksi pisau dan golok menjadi lebih cepat dan efisien. “Saya seneng tetangga bisa ikut kerja sama saya, jadi mereka gak nganggur lagi di rumah dan nambah pemasukan keluarganya juga," kata dia.

Kesejahteraan yang makin meningkat, membuat Enoh dan keluarga mampu hidup lebih baik dan nyaman. Ia juga telah mengalokasikan dana untuk pendidikan kedua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah. Selain itu, Enoh juga telah membeli kendaraan yang dulunya tidak ia miliki, yaitu berupa mobil bak terbuka dan juga sebuah motor, yang ia gunakan untuk kepentingan usahanya.

Hal ini sejalan dengan riset yang pernah dilakukan oleh Amartha, dimana hampir 80 persen dari total sampel penelitian telah mampu mencicil moda transportasi baru setelah setahun mengalami peningkatan pendapatan. Tentu saja ini merupakan suatu kemajuan yang amat baik untuk Enoh dan keluarga.