Sabtu , 05 August 2017, 07:24 WIB

Tekun Bertani, Kini Junengsih Berhasil Merenovasi Rumah

Red: Qommarria Rostanti
Dok Amartha
Salah satu mitra Amartha, Junengsih.
Salah satu mitra Amartha, Junengsih.

REPUBLIKA.CO.ID, Bermodal caping dan sebuah arit, Junengsih (56 tahun) selalu semangat melangkahkan kakinya bekerja di sawah setiap pagi. Selepas memasak dan menyiapkan sarapan untuk suami dan ketiga anaknya, Junengsih bersama sang suami lantas bergegas melakukan rutinitas sehari-harinya yaitu mengolah padi di sawah.

Walau tubuhnya tidak sekuat dulu, namun Junengsih tak pernah letih dan mengeluh untuk tetap mencari nafkah lewat bertani. Mengolah tanah, menyemai, menanam padi, merawat padi, hingga panen dia lakukan dengan penuh semangat. Walau usianya sudah lebih dari setengah abad, Junengsih punya rahasia sendiri agar terus semangat dan kuat bekerja. Ternyata, dorongan agar kedua anaknya dapat terus bersekolah, menjadi sumber energi tersendiri baginya untuk terus mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Dia memiliki empat anak. Yang pertama sudah menikah dan ikut suaminya, yang kedua bekerja di pabrik, dan dua anak lainnya masih sekolah. "Jadi ya dari situ saya semangat terus buat kerja, biar yang dua bisa sekolah sampai tinggi,” ujar Junengsih dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, semalam.

Sudah lima tahun, dia bergabung bersama Amartha. Saat itu, dia sedang bingung mencari suntikan modal tambahan karena tiba-tiba sayuran yang ditanamnya gagal panen. Beruntung, sebelum memutuskan untuk meminjam kepada rentenir, dia mendapat sosialiasi dari petugas lapang Amartha tentang pembiayaan modal usaha.

Dia langsung tertarik dan langsung membuat sebuah kelompok untuk bergabung dan menjadi mitra Amartha.
Memang, di Amartha sendiri mewajibkan mitranya untuk membentuk sebuah kelompok yang berisi 15 sampai 25 orang. Sistem ini terbukti ampuh untuk menekan gagal bayar karena sudah lebih dari tujuh tahun, rasio kredit bermasalah Amartha berada di angka 0 persen.

Amartha yang merupakan salah satu penyelenggara layanan peer to peer (P2P) lending sebagai marketplace yang mempertemukan investor dengan peluang investasi pada pembiayaan usaha mikro dan kecil di Indonesia, berhasil menyalurkan pembiayaan kepada lebih dari 38 ribu mitra layaknya Junengsih dengan total dana tersalurkan lebih dari Rp 100 miliar rupiah.

“Alhamdulilah 2012 lalu ketemu sama Amartha, dapet modal Rp 500 ribu terus saya pakai buat beli bibit sama pupuk. Alhamdulillahnya lagi panennya sukses. Ya sampai sekarang saya dapet pinjaman dari Amartha udah Rp 6 juta buat usaha saya,” cerita Junengsih penuh semangat.

Junengsih sangat bersyukur, karena dengan modal usaha yang diberikan, dia bisa terus mengembangkan usaha taninya dari tahun ke tahu. Contohnya, dulu dia hanya menanam padi dan sayur. Namun sekarang, selain menanam padi, dia juga menanam aneka sayuran dan buah-buahan. Sayuran dan padi dia tanam bergantian tergantung musim, sedangkan buah dia tanam di lahan kecil miliknya yang terletak di belakang rumah.

Usahanya ini telah memberikan pendapatan yang lebih baik bagi keluarganya. Hal ini karena, jenis tanaman yang dia tanam menjadi lebih banyak dan bervariasi berkat adanya modal. Junengsih pun telah berhasil mengalokasikan sedikit demi sedikit uang, untuk biaya pendidikan kedua buah hatinya yang masih sekolah.

Tak hanya itu, baru-baru ini Junengsih telah melakukan renovasi pada rumah sederhana miliknya. Dia telah berhasil memasang keramik dan juga membangun mandi, cuci, kakus (MCK) pribadi. Dia senang usahanya dapat terbantu dan pendapatan meningkat. "Dulu paling sebulan dapat Rp 1 jutaan saja, sekarang Alhamdulillah dari tani buah-buahan jadi sebulan ya bisa dapat Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Jadi saya bisa pasang keramik sama bikin kamar mandi di dalam," kata dia.

Peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup yang dialami oleh Junengsih ini, khususnya dalam hal perbaikan kualitas hidup, seperti pemasangan keramik yang dilakukan oleh Junengsih. Data dari penelitian Amartha kepada 400 pelaku usaha informal seperti Junengsih, menunjukkan bahwa setelah mendapat pemodalan dan peningkatan pendapatan, partisipan yang menggunakan lantai tanah turun dari 25 persen menjadi 14 persen. Angka yang signifikan dalam menurunkan tingkat kemiskinan.

Kini, kehidupan Junengsih dan keluarga lebih sejahtera, dengan kualitas hidup yang meningkat. Ini adalah buah kerja kerasnya karena telah tekun dan selalu semangat dalam menjalankan usaha taninya selama lebih dari 20 tahun.

Berita Terkait