Rabu , 26 Juli 2017, 18:44 WIB

Semester I 2017, Amartha Salurkan Pembiayaan Rp 100 Miliar

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Qommarria Rostanti
ROL/Fakhtar K Lubis
CEO dan founder Amartha Andi Taufan Garuda Putra
CEO dan founder Amartha Andi Taufan Garuda Putra

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perkembangan financial technology (fintech) semakin pesat. Perusahaan fintech, Amartha, pun telah menyalurkan pembiayaan hingga Rp 100 miliar pada semester pertama tahun ini.

CEO sekaligus pendiri Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, berharap pembiayaan bisa bertambah hingga akhir tahun. Hanya saja dia tidak memiliki target khusus karena tahun ini perusahaan akan lebih fokus kepada penetrasi.

Amartha telah menyalurkan pembiayaan kepada lebih dari 38 ribu mitra usaha kecil dan mikro di seluruh pelosok Pulau Jawa. "Usaha mikro dan kecil merupakan salah satu kunci penggerak ekonomi, tapi sulit bagi mereka untuk dapat pembiayaan dari bank. Maka kita bantu," ujarnya di Kantor Amartha, Jakarta, Rabu, (26/7).

Perusahaan penyedia layanan peer to peer (P2P) lending ini memang menyasar pelaku UMKM namun khusus wanita. "Pembiayaan memang kita salurkan 100 persen ke wanita," kata Andi.

Amartha menyediakan pinjaman minimal Rp 3 juta sampai maksimal Rp 10 juta. Diharapkan dana tersebut bisa memberdayakan masyarakat sekaligus membantu program inklusi pemerintah.

Andi menyebutkan, ada lima tujuan pembiayaan yang paling sering diajukan nasabah yakni untuk modal warung sembako, modal jualan perabot rumah tangga, modal bibit dan pupuk pertanian, modal berdagang sayuran, dan modal membuka warung makanan seperti warteg. "60 persen pembiayaan memang masih di sektor perdagangan, 30 persen di usaha rumah tangga, dan 10 persen di sektor pertanian," ujarnya.

Hingga kini rasio kredit bermasalah Amartha masih 0 persen. Pasalnya setiap pekan pihaknya mengumpulkan nasabah untuk membayar angsuran.

Saat ini Amartha telah menjangkau lebih dari 350 desa di Pulau Jawa. Andi menargetkan bisa mencapai 500 desa sampai akhir tahun. "Tahun depan kami baru akan ekspansi ke daerah lain, kalau bisa ke semua daerah di Indonesia," ujar Andi. Menurut dia, potensi pembiayaan fintech masih sangat besar terutama di wilayah timur Indonesia.