Senin , 10 Juli 2017, 08:36 WIB

Lebih Mandiri dari Usaha Warung Kelontong dan Nasi Uduk

Red: Dwi Murdaningsih
amartha
Nia, pedagang nasi uduk dan warung kelontong yang menjadi mitra Amartha.
Nia, pedagang nasi uduk dan warung kelontong yang menjadi mitra Amartha.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nia (32 tahun) sehari hari menekuni usaha warung kelontong di rumahnya. Setiap hari, sedikit demi sedikit ia kumpulkan uang dari  hasil pendapatan suaminya, yang sehari–hari bekerja sebagai montir las di bengkel. Uang yang disisihkan itu ia jadikan modal usaha  membangun warung kelontong. Meski pendapatannya dari usaha warung kelontong tidak seberapa, namun hal itu tidak pernah membuatnya berputus asa untuk terus menjalankan usahanya

Sehari-hari Nia mampu memperoleh penghasilan kotor sebesar Rp 300 ribu dari hasil membuka warung kelontong. Pendapatan dari hasil membuka warung kelontong tersebut hanya mampu mencukupi kebutuhan makan sehari-hari Nia dan keluarga.

Sedangkan untuk kebutuhan sekolah anak semata wayangnya yang duduk di bangku sekolah menengah pertama, Nia lebih mengandalkan pendapatan dari suaminya. Keterbatasan penghasilan keluarga, membuat Nia ingin lebih mengembangkan usahanya agar mampu menambah pundi-pundi penghasilan keluarga.

Menyadari bahwa penghasilannya dari berjualan warung kelontong saja tidaklah cukup untuk menopang kebutuhan hidup keluarga, Nia mencoba peruntungannya kembali dengan memulai usaha nasi uduk. Biasanya sekitar pukul 6 pagi Nia sudah bersiap untuk berjualan nasi uduk di depan rumahnya, sembari melayani pembeli yang terkadang juga ingin membeli beberapa kebutuhan rumah tangga yang ia jual di warungnya.

Berjualan nasi uduk ini membawa Nia mengenal lembaga pembiayaan Amartha. Kurang lebih satu tahun terkahir ini Nia telah bergabung menjadi mitra Amartha. Pembiayaan pertama sebesar Rp 3 Juta, ia gunakan untuk modal usaha berjualan nasi uduk dan menambah barang-barang kelontong yang ia jual di warungnya.

“Bersyukur sekali, Amartha bisa kasih modal 3 juta, langsung saya pakai modal usaha nasi uduk sama nambah barang kelontong di warung. Dagang nasi uduknya kalau pagi juga selalu ramai, karena kebetulan yang jual nasi uduk disini belum banyak , dan biasanya orang-orang beli untuk sarapan," kata Nia.

Kecermatan Nia dalam membaca peluang usaha yang ada, juga merupakan salah satu kunci keberhasilan usaha yang ia mulai rintis setahun belakangan ini. Kemajuan usaha warung kelontong dan nasi uduk yang ia tekuni tentunya mulai memberikan hasil yang nyata dengan bertambahnya penghasilan Nia.

Awalnya dalam sehari Nia hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp 400 ribu, dalam sehari saat warung kelontongnya sedang ramai, kini setelah ditambah dengan usaha nasi uduk setiap pagi, pendapatan bersih Nia dari berjualan warung kelontong dan nasi uduk  setiap hari bisa mencapai Rp 600 ribu.

“Alhamdulilah, laris terus nasi uduknya setiap pagi, kadang juga ada yang pesan untuk acara arisan, acara kumpulan, warung kelontong saya  juga lumayan karena sekarang sudah mulai lengkap, jadi orang-orang sering belanja kemari, saya kalau jualan tidak mahal-mahal yang penting banyak pembelinya, banyak langganannya," kata dia.

Berkontribusi Meningkatkan Pendapatan Keluarga
Keberhasilan usaha yang Nia rintis dengan suntikan modal dari Amartha, akhirnya mengantarkan Nia untuk terus konsisten mengembangkan usahanya ini. Semangat Nia untuk turut  menyejahterakan keluarganya, membuat Nia tak pernah patah arang untuk merajut  asa, dan menggapai mimpi-mimpinya.

Nia berharap usahanya kian maju dan berkembang. Tidak cukup sampai disitu, ia mencoba peluang untuk mengembangkan usahanya barunya ini, melebarkan sayap dengan menjual nasi uduk di sekolah–sekolah sekitar tempat ia tinggal. Kini Nia perlahan mulai mantap untuk konsisten mengembangkan usaha warung kelontong dan nasi uduknya. Berkat kegigihan Nia, ia turut menjadi penggerak  roda perekonomian keluarganya.